BI Ramal Ekspor Anjlok Hingga Minus 5,6 Persen Karena Corona

CNN Indonesia | Senin, 30/03/2020 17:40 WIB
BI memperkirakan wabah virus corona menekan permintaan ekspor, terutama sektor pertambangan dan penggalian. BI memperkirakan ekspor bisa turun hingga 5,6 persen tahun ini karena wabah virus corona. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekspor nasional akan jatuh ke kisaran minus 5,2 persen sampai minus 5,6 persen pada tahun ini. Kondisi ini terjadi karena penyebaran pandemi virus corona atau covid-19 menekan aktivitas perdagangan.

Proyeksi ini disampaikan dalam Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2019 yang diluncurkan pada hari ini, Senin (30/3). Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekspor akan tertekan akibat melemahnya pertumbuhan ekonomi global, penurunan volume perdagangan, dan rendahnya harga komoditas.

"Terganggunya rantai suplai global akibat Covid-19 juga diprakirakan dapat mempengaruhi ekspor Indonesia akibat tidak tersedianya bahan
antara yang diproduksi di negara lain," ucap Perry dalam laporan tersebut.


Sektor pertambangan dan penggalian diperkirakan terkena hantaman paling besar. Sebab, permintaan komoditas ekspor utama turun, terutama dari China.

"Selain ekspor barang, ekspor jasa juga diprakirakan tertahan akibat kunjungan wisata yang terkontraksi karena Covid-19," katanya.

Sejalan dengan prospek pelemahan ekspor, impor pun juga akan terpuruk. Proyeksi BI, laju impor minus 8,9 persen sampai minus 9,3 persen pada tahun ini.

"Investasi nonbangunan yang lemah menyebabkan impor barang modal juga tertahan," ungkapnya.

Selain itu, impor juga terkena dampak dari kebijakan penurunan impor yang sebelumnya sudah digencarkan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Misalnya, melalui kebijakan revisi batas bea masuk barang impor, percepatan program mandatori B30, hingga optimalisasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) di proyek kelistrikan dan lainnya.

Sementara, kinerja investasi juga akan menurun, meski tidak minus. Perry mengatakan investasi kemungkinan hanya tumbuh sekitar 3,1 persen sampai 3,5 persen pada tahun ini.

"Kontraksi ekspor menahan laju pertumbuhan investasi, terutama investasi nonbangunan," tuturnya.

Potensi penurunan kinerja investasi, sambungnya, juga berasal dari penutupan akses keluar masuk orang dari dan ke Indonesia. Salah satunya, ke China, sumber virus corona.

Hal ini akan membuat mobilitas Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Negeri Tirai Bambu terhenti, sehingga turut melambatkan aliran investasi ke Tanah Air. Padahal, China merupakan salah satu penyumbang investasi sekaligus TKA terbesar bagi Indonesia.

"Tertahannya TKA dari China masuk ke Indonesia turut menahan pertumbuhan investasi pada jangka pendek, terutama investasi dari China yang umumnya diiringi oleh TKA dari negara tersebut," jelasnya.

Kendati begitu, ia melihat masih ada peluang aliran investasi melalui proyek infrastruktur pemerintah, terutama investasi bangunan. Peluang investasi terbuka karena pemerintah berencana merevisi pengurangan sektor pada Daftar Negatif Investasi (DNI) dan pengubahan istilah menjadi Daftar Positif Investasi (DPI).

"Kebijakan moneter yang akomodatif oleh Bank Indonesia turut mendorong penurunan cost of investment dan memberikan insentif untuk peningkatan investasi oleh para pelaku usaha," ujarnya.

Sementara indikator konsumsi swasta diperkirakan masih bisa terjaga di kisaran 4,6 persen hingga 5,0 persen dan konsumsi pemerintah 2,1 persen hingga 2,5 persen. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,2 persen hingga 4,6 persen pada tahun ini.

Menurutnya, pertumbuhan konsumsi swasta sedikit terkoreksi dari histori tahun-tahun sebelumnya di kisaran 5 persen karena ada potensi perubahan pola konsumsi di tengah pandemi corona. Hal ini tak lepas dari dampak imbauan kerja dari rumah yang dikeluarkan pemerintah.

"Masyarakat cenderung meningkatkan konsumsi kebutuhan pokok (basic need) dan menunda konsumsi lainnya. Konsumsi seperti pakaian, transportasi, perlengkapan rumah tangga, dan leisure diprakirakan terdampak negatif," terangnya.

Sementara konsumsi barang kebutuhan pokok diperkirakan tetap terjaga di tengah pandemi corona. Hal ini, katanya, tak lepas dari struktur ekonomi masyarakat yang masih didominasi oleh kalangan menengah.

"Penduduk kelas menengah pada umumnya bekerja pada sektor formal dan memiliki penghasilan tetap, sehingga Covid-19 berdampak minimal terhadap tingkat pendapatan kelompok tersebut," ucapnya.

Sedangkan laju konsumsi pemerintah diproyeksi tetap tumbuh baik karena kebijakan paket stimulus ekonomi untuk menopang daya beli masyarakat di tengah pandemi corona. Kebijakan ini, menurutnya, akan mendorong kementerian/lembaga dan pemerintah daerah untuk segera mengakselerasi belanja dan mengurangi pengeluaran yang tidak prioritas.

Berdasarkan data BI, total stimulus fiskal pemerintah mencapai Rp33,3 triliun untuk penanganan ekonomi di tengah corona. Rinciannya, berasal dari paket stimulus jilid pertama senilai Rp10,4 triliun atau 0,06 persen dari PDB Indonesia.

Sisanya, sebanyak Rp22,9 triliun atau 0,19 persen dari PDB Indonesia melalui paket stimulus ekonomi jilid kedua. "Pemerintah juga akan melakukan realokasi anggaran yang dipusatkan ke sektor kesehatan dan bantuan sosial dari belanja barang dan belanja modal yang tidak mendesak," katanya.

Sementara inflasi diperkirakan tetap berada di sasaran target sebesar 3 persen plus minus 1 persen. Begitu pula dengan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) sebesar 2,5 persen sampai 3,0 persen dari PDB.

"Prospek ini dipengaruhi oleh perbaikan net ekspor sejalan dengan perlambatan kinerja impor yang lebih dalam dibandingkan dengan perlambatan kinerja ekspor. Meski, ketidakpastian menurunkan minat investor, sehingga mengakibatkan turunnya aliran modal asing yang masuk ke Indonesia," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

Berikut proyeksi revisi target indikator pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020:
Pertumbuhan Ekonomi: 4,2 persen sampai 4,6 persen
Konsumsi Swasta: 4,6 persen sampai 5,0 persen
Konsumsi Pemerintah: 2,1 persen sampai 2,5 persen
PMTB (Investasi): 3,1 persen sampai 3,5 persen
Ekspor: minus 5,2 persen sampai minus 5,6 persen
Impor: minus 8,9 persen sampai minus 9,3 persen
Inflasi: 3 persen plus minus 1 persen.
Defisit Transaksi Berjalan (Current Account Deficit/CAD): 2,5 persen sampai 3,0 persen dari PDB. (uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK