Yang dipikirkan dari sisi dunia usaha adalah sisi kemanusiaan. "Walau dolar AS naik, kami akan mengurangi margin, bahkan jika kondisi minus (kami) tetap jalan. Tidak bicara untung atau rugi. Dalam 1-2 bulan pasti (minus). Tapi dalam setahun semoga bisa cepat selesai," ucapnya kepada CNNIndonesia.com awal pekan kemarin.
Meskipun tak berharap untung, pengusaha tetap berharap bantuan pemerintah. Bantuan tersebut berbentuk kelancaran jalur distribusi logistik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adhi mengatakan kelancaran distribusi diperlukan karena saat ini gudang logistik hanya mampu menampung barang untuk kebutuhan kurang lebih 2 minggu. Selebihnya, mereka membutuhkan pasokan dari pusat.
Ia tak berkeberatan kalau pembukaan jalur logistik tersebut nantinya dilakukan secara ketat asalkan arus barang tetap lancar.
[Gambas:Video CNN]
"Jadi distribusi tetap jalan, tidak berhenti. Tapi diawasi, misalnya surat jalan harus jelas dari mana mau dikirim kemana, itu harus jelas," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Danang Girindrawardana menuturkan tak ada yang perlu dikhawatirkan dari sisi logistik. Menurutnya, pelaku usaha akan menyesuaikan dengan ketetapan pemerintah.
Akan tetapi, ia menegaskan kewajiban menjamin ketersediaan pasokan pangan selama lockdown adalah tanggung jawab pemerintah.
"Pengusaha tidak memiliki kemampuan untuk menjamin ketersediaan selama lockdown itu kewajiban pemerintah. (Kewajiban) dunia usaha jelas tidak boleh menarik keuntungan dan bagaimana cara kami memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk bisa akses kebutuhan pokok mereka sehari-hari terutama di kalangan ritel," ucapnya.
"Harus diperhatikan pemerintah adalah keluarga kita yang masih kerja dengan upah harian, itu yang harus betul-betul diperhatikan. Bagaimana mereka bisa hidup sementara transportasi down, pusat belanja juga tutup, itu yang harus dipikirkan," katanya. (ulf/agt)