Mengutip AFP, harga minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) melonjak 7,3 persen menjadi US$21,5 per barel. Pada Senin (30/3), WTI sempat menyentuh US$20 per barel yang merupakan level terendah sejak 2002. Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent naik 3,3 persen ke posisi US$23,5 per barel.
Harga minyak mentah merangkak naik karena investor memanfaatkan pembelian di harga murah. Mereka juga memberikan imbal balik positif pada stimulus pemerintah di berbagai negara untuk memperkuat ekonomi akibat serangan pandemi. Terutama, paket stimulus jumbo senilai US$2 triliun di AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, Rusia dan Arab Saudi melakukan perang harga menyusul perseteruan keduanya terkait pengurangan produksi minyak guna menjaga harga di tengah penyebaran virus corona. Karena tidak menemui kesepakatan, Arab Saudi justru meningkatkan produksi sebesar 600 ribu barel per hari (bph) guna menguasai pasar.
Dengan tambahan produksi itu, maka Arab Saudi akan menembus rekor produksi sebesar 10,6 juta bph pada Mei mendatang. Akan tetapi, Innes menilai meski ketegangan Arab Saudi dan Rusia berakhir, tak sepenuhnya menjamin investor kembali ke pasar minyak.
Pasar minyak mentah telah hancur akibat serangan virus corona. Sebab, pemerintah di seluruh negara memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran virus corona. Akibatnya, permintaan minyak tertekan signifikan.
Setidaknya, dua perlima populasi dunia kini berdiam diri di rumah. Sementara itu, jumlah korban tewas akibat virus corona terus bertambah hingga lebih dari 37 ribu orang. Dari seluruh negara di dunia, AS menjadi negara dengan jumlah pasien tertinggi.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/age)