Sementara, inflasi secara tahun berjalan (year-to-date/ytd) sebesar 0,76 persen. Sedangkan secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 2,96 persen pada Maret 2020.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan inflasi disumbang oleh inflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,99 persen dengan andil 0,06 persen. "Penyumbangnya adalah inflasi harga emas 0,05 persen," ujar Suhariyanto, Rabu (1/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, inflasi kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,02 persen dengan andil nol persen, inflasi kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,02 persen dengan andil nol persen, dan inflasi kelompok pendidikan nol persen dengan andil nol persen.
Sedangkan kelompok transportasi mengalami deflasi 0,43 persen dengan andil minus 0,05 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan deflasi 0,09 persen dengan andil minus 0,01 persen.
Berdasarkan komponennya, inflasi terjadi berkat sumbangan dari inflasi inti sebesar 0,29 persen dan andil 0,19 persen. "Inflasi komponen inti disumbang oleh harga emas 0,05 persen dan bawang bombai 0,03 persen," tuturnya.
Sedangkan komponen harga diatur pemerintah (administered price) deflasi 0,19 persen dan andil minus 0,03 persen. Begitu pula dengan komponen bergejolak (volatile foods) dengan deflasi 0,38 persen dan andil minus 0,06 persen.
Komponen volatile foods, terdiri dari komponen energi dengan inflasi 0,04 persen dan andil nol persen serta komponen bahan makanan dengan deflasi 0,15 persen dan andil minus 0,03 persen.
Inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe sebesar 0,64 persen dan terendah di Surabaya, Surakarta, dan Pekanbaru 0,01 persen. "Inflasi di Lhokseumawe penyebab utama adalah kenaikan harga berbagai jenis ikan dan harga emas," tuturnya.
Sedangkan deflasi tertinggi di Timika sebesar 1,2 persen dan terendah di Tangerang 0,01 persen. "Deflasi di Timika penyebabnya adalah turunnya harga tiket penerbangan udara, sehingga sumbangan ke deflasi 0,77 persen," tutupnya.
[Gambas:Video CNN] (uli/age)