BPS: Kenaikan Harga Emas Sumbang Inflasi Maret 0,1 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 01/04/2020 11:39 WIB
BPS mencatat Indeks Harga Konsumen mengalami inflasi sebesar 0,1 persen secara bulanan pada Maret 2020. BPS mencatat Indeks Harga Konsumen mengalami inflasi sebesar 0,1 persen secara bulanan pada Maret 2020. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan harga atau inflasi sebesar 0,1 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Maret 2020. Inflasi lebih rendah dari 0,28 persen pada Februari 2020 dan dari 0,11 persen pada Maret 2019.

Sementara, inflasi secara tahun berjalan (year-to-date/ytd) sebesar 0,76 persen. Sedangkan secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 2,96 persen pada Maret 2020.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan inflasi disumbang oleh inflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,99 persen dengan andil 0,06 persen. "Penyumbangnya adalah inflasi harga emas 0,05 persen," ujar Suhariyanto, Rabu (1/4).


Kontribusi tertinggi selanjutnya berasal dari inflasi kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,36 persen dengan andil 0,03 persen. Lalu, inflasi kelompok perlengkapan peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,28 persen dengan andil 0,02 persen.

Kemudian, inflasi kelompok kesehatan 0,21 persen dengan andil 0,01 persen, inflasi kelompok pakaian dan alas kaki 0,12 persen dengan andil 0,01 persen, dan inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau 0,1 persen dengan andil 0,03 persen.

"Telur ayam ras menyumbang andil inflasi 0,03 persen, bawang bombai 0,03 persen, gula pasir 0,02 persen, rokok kretek putih 0,01 persen," katanya.

Sementara, inflasi kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,02 persen dengan andil nol persen, inflasi kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,02 persen dengan andil nol persen, dan inflasi kelompok pendidikan nol persen dengan andil nol persen.

Sedangkan kelompok transportasi mengalami deflasi 0,43 persen dengan andil minus 0,05 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan deflasi 0,09 persen dengan andil minus 0,01 persen.

"Andil deflasi dari penurunan tiket transportasi udara sebesar 0,26 persen," jelasnya.

Berdasarkan komponennya, inflasi terjadi berkat sumbangan dari inflasi inti sebesar 0,29 persen dan andil 0,19 persen. "Inflasi komponen inti disumbang oleh harga emas 0,05 persen dan bawang bombai 0,03 persen," tuturnya.

Sedangkan komponen harga diatur pemerintah (administered price) deflasi 0,19 persen dan andil minus 0,03 persen. Begitu pula dengan komponen bergejolak (volatile foods) dengan deflasi 0,38 persen dan andil minus 0,06 persen.

Komponen volatile foods, terdiri dari komponen energi dengan inflasi 0,04 persen dan andil nol persen serta komponen bahan makanan dengan deflasi 0,15 persen dan andil minus 0,03 persen.

Berdasarkan wilayah, inflasi terjadi di 43 kota dari 90 kota IHK. Sementara 47 kota lainnya mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe sebesar 0,64 persen dan terendah di Surabaya, Surakarta, dan Pekanbaru 0,01 persen. "Inflasi di Lhokseumawe penyebab utama adalah kenaikan harga berbagai jenis ikan dan harga emas," tuturnya.

Sedangkan deflasi tertinggi di Timika sebesar 1,2 persen dan terendah di Tangerang 0,01 persen. "Deflasi di Timika penyebabnya adalah turunnya harga tiket penerbangan udara, sehingga sumbangan ke deflasi 0,77 persen," tutupnya.

[Gambas:Video CNN] (uli/age)