"(Sebelumnya) Saya optimis untuk menjanjikan dividen yang terus meningkat bahkan sampai dua kali. Tapi pada kondisi saat ini, sejujurnya untuk dividen tahun 2020 pun kemungkinan kami meleset," kata Erick dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI yang digelar secara teleconference, Jumat (3/4).
Tahun depan, ia ragu setoran dividen dapat sepenuhnya pulih. Ia memperkirakan kinerja baru kembali normal pada 2022.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, sejumlah perusahaan pelat merah juga terancam mengalami gangguan arus kas (cash flow) perusahaan karena pelemahan nilai tukar rupiah. Misalnya PT Pertamina (Persero) dan juga PT PLN (Persero).
Untuk meredam dampak dari penyebaran virus corona, Erick menyebutkan telah menyiapkan sejumlah rencana. Salah satunya, kata dia, rencana transformasi BUMN yang melakukan klasifikasi berdasarkan nilai ekonomi, pelayanan publik, ataupun keduanya.
Contohnya, yang sudah dilakukan tiga perusahaan BUMN yang akan menutup puluhan anak usahanya, yakni Garuda Indonesia, Pertamina, dan PLN.
"Ini masih 3 perusahaan kami minta terus (efisiensi), tetapi memastikan harus masuk juga bagaimana pekerja diutamakan tidak dikeluarkan, digabungkan usaha lain diprioritaskan efisiensi dan memperkuat cash flow," jelas Erick.
Sebagai informasi, tahun lalu, perusahaan pelat merah menyetorkan dividen atas kinerja 2018 sebesar Rp45,1 triliun. Jumlah ini meningkat 2,7 persen dari tahun sebelumnya, Rp43,9 triliun.
[Gambas:Video CNN]
(mjo/sfr)