Sebagian Besar Hotel di Bali Tutup Hingga Dua Bulan ke Depan

CNN Indonesia | Minggu, 05/04/2020 16:05 WIB
Sebagian Besar Hotel di Bali Tutup Hingga Dua Bulan ke Depan Hampir semua hotel dan restoran di Bali tutup sementara waktu hingga dua bulan ke depan karena pandemi virus corona. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Bali Hotel Association (BHA) I Made Ricky Darmika Putra mengatakan hampir semua hotel dan restoran di Bali tutup sementara waktu. Penutupan terkait pandemi penyakit covid-19 atau virus corona.

"Saat ini, hampir semua hotel dan restoran di Bali ditutup sementara untuk satu hingga dua bulan ke depan, sekalian melihat situasi terkini," ujarnya, seperti dikutip Antara, Minggu (5/4).

Kalau pun masih ada hotel yang beroperasi, sambung dia, okupansi atau tingkat hunian hotel tersebut di bawah 10 persen. Sementara, restoran yang masih beroperasi menutup jam operasional lebih awal.


"Kami berharap semua General Manager dan pemilik hotel sebisanya menghindari PHK (pemutusan hubungan kerja). Sembari, tetap berdoa situasi ini segera pulih," terang dia.

Terkait kabar penjualan hotel di Pulau Dewata, Ricky menegaskan bahwa hal itu tidak benar. Hal itu sudah dibantah oleh pihak hotel terkait. "Informasi itu tidak benar," kata Ricky.

BHA merupakan asosiasi general manager hotel berbintang 4 dan 5 seluruh Bali dan memiliki 168 anggota hotel dengan 32.000 kamar dan 46.000 karyawan.

Wakil Ketua IHGMA Bali I Made Ramia Adnyana menegaskan informasi soal puluhan hotel di Bali yang akan dijual itu merupakan hoaks.

"Contohnya saja hotel H Sovereign Bali, yang masuk dalam daftar informasi hoaks itu. H Sovereign Bali tidak sedang dalam kondisi dijual. Kami masih buka, walaupun ada wisatawan hanya 5-10 kamar," ujar Ramia yang juga GM hotel H Sovereign Bali.

Untuk menyikapi situasi yang sulit ini, pihaknya telah melakukan efisiensi di semua lini, termasuk menjadwalkan karyawan untuk mengambil libur, cuti dan "extra off" mereka mulai dari pertengahan Februari 2020.

"Selain itu, juga menunda semua rencana perbaikan produk, menunda semua Purchase Request (PR) dan Purchase Order (PO), melakukan negosiasi pembayaran ke vendor dengan termin yang lebih panjang, serta menagih semua piutang untuk mendapatkan uang tunai," jelasnya.

Kemudian, melakukan pemasaran yang lebih kreatif dengan menambahkan keuntungan lebih banyak dan menjual voucher yang bisa berlaku setahun ke depan untuk diambil di kemudian hari dengan "open voucher".

"Kami tidak ada rencana melakukan PHK, tetapi kami melakukan giliran kerja yang adil untuk semua karyawan," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]


(Antara/bir)