EDUKASI KEUANGAN

Strategi Atur Kesehatan Keuangan Kala PHK Corona Mengancam

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Sabtu, 11/04/2020 09:00 WIB
Gelombang PHK karena virus corona mulai mengancam. Ada beberapa cara mengatur keuangan jika ancaman itu datang. Berikut caranya. Gelombang PHK karena virus corona mulai mengancam. Segera atur keuangan supaya saat ancaman itu datang kita tidak kebingungan. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pandemi virus corona atau Covid-19 rupanya tak hanya menimbulkan ancaman bagi kesehatan dan jiwa masyarakat. Lebih dari itu, virus corona juga memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di kalangan pekerja.

Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan ada lebih dari 1 juta pekerja yang dirumahkan dan PHK akibat penyebaran wabah tersebut di Indonesia. Rinciannya, 873 ribu pekerja dirumahkan dan 137,4 ribu pekerja di-PHK.

PHK pun bisa terjadi di pekerja sektor formal maupun informal. PHK juga bisa menyasar pekerja jenis industri mana saja. 


Hal ini tentu akan membuat pekerja khawatir dengan masa depan kondisi keuangan mereka. Maklum, sampai saat ini penyebaran virus masih terus terjadi dan sampai kapan kondisi tersebut berlangsung, belum ada satu orang pun yang bisa mengetahuinya.

Ingin cari pekerjaan baru pun belum tentu bisa cepat didapat. Lantas, apa yang harus dilakukan pekerja di tengah kondisi tersebut?

Bagaimana juga strategi mengatur keuangan supaya di saat gelombang PHK datang, kita semua siap?

Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad mengatakan kaum pekerja harus mulai jeli dengan risiko PHK, khususnya yang bekerja di sektor paling rentan. Untuk itu, strategi atur keuangan sejatinya sudah harus dilakukan jauh-jauh hari.

"Intinya, berhemat sudah harus sedini mungkin. Jangan tunggu kepastian akan PHK atau tidak, karena kondisi corona ini pun belum tahu kapan berakhirnya," ujar Tejasari kepada CNNIndonesia.com, Kamis (9/4).

Secara umum, berhemat dilakukan dengan hanya mengeluarkan dana untuk keperluan yang paling prioritas, seperti kebutuhan makan dan perlengkapan sehari-hari serta pengeluaran tambahan khusus untuk kesehatan. Artinya, segala kebutuhan di luar itu sebaiknya ditahan dulu, misalnya beli baju baru, aksesoris, mainan anak, dan lainnya.

"Berhemat memang susah, tapi ingat lagi semua demi prioritas dan berjaga-jaga, karena tidak ada yang tahu ini semua sampai kapan," imbuhnya.

Setelah itu, jalankan kebijakan realokasi anggaran. Misalnya, saat ini sedang kerja dari rumah (work from home), maka pengeluaran transportasi, makan di luar, hingga jalan-jalan bisa dipindahkan untuk penambah kebutuhan sehari-hari.

Sebab, saat hanya beraktivitas di rumah, maka pengeluaran dapur akan meningkat. Begitu pula dengan penggunaan air, listrik, gas, dan kebutuhan rumah harian lainnya.

[Gambas:Video CNN]
Bila kebutuhan sehari-hari sudah terpenuhi, maka lihat lagi, apakah masih ada kelebihan dana dari pos pengeluaran yang tidak dilakukan? Misalnya, pengeluaran transportasi dan lainnya masih ada kelebihan, maka ini saatnya dimasukkan ke pos dana darurat.

Menurut Teja, dana darurat akan menjadi bantalan pertama ketika pekerja harus menghadapi kejadian pahit seperti PHK. Pos ini menjadi yang pertama bisa digunakan sebelum mengorek tabungan.

"Sebisa mungkin dana darurat ini berupa uang tunai, tapi tidak perlu terlalu banyak. Sisanya, boleh ditaruh di instrumen investasi, tapi yang likuid, yang mudah dicairkan dalam sehari, dua hari, karena untuk darurat," katanya.

Ia mengingatkan jangan taruh dana darurat di instrumen investasi seperti deposito karena harus cermat dengan jatuh tempo, entah sebulan, tiga bulan, enam bulan, hingga satu tahun. Instrumen yang aman setidaknya reksadana pasar uang.

Selain pengeluaran transportasi, makan di luar, dan jalan-jalan, kata Teja, pemasukan untuk pos dana darurat juga bisa dimaksimalkan dengan pengeluaran jangka menengah yang tak bisa dilakukan. Misalnya, dana yang sudah dipersiapkan untuk mudik.

Kebetulan, mudik di tengah pandemi corona tak bisa dilakukan, sehingga tidak ada salahnya ikut dipindahkan ke dana darurat dan sisihkan pula ke tabungan. Nah, ketika PHK tak terelakkan, maka dana darurat bisa dipakai.

Bila sudah habis, barulah merogoh tabungan dan investasi. Namun Teja memberi saran, investasi yang dicairkan sebaiknya bukan yang bersifat jangka panjang dan nilainya sedang jatuh, seperti saham.

"Karena kalau cepat dicairkan justru khawatirnya membuat rugi, siapa tau beberapa waktu ke depan adalah waktu yang lebih tepat," ujarnya.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah membuka usaha. Memang, pandemi corona penuh ketidakpastian. Namun, menurut Teja, tidak ada salahnya dicoba.

Hanya saja, ada beberapa kriteria usaha yang perlu diperhatikan. Misalnya, lebih baik buka usaha jual makanan melalui pesan antar dan e-commerce ketimbang membuka di rumah.

"Kalau ada yang punya keahlian, ini tidak salah dicoba, misal sekarang apa-apa serba online, bisa jualnya online juga, tapi lebih baik jualnya sesuai orderan saja, jangan menyetok banyak baru dijual, takutnya tidak ada yang beli," ungkapnya.

Senada, Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Mohammad Andoko mengatakan gelombang PHK memang perlu diantisipasi. Apalagi, bila kemungkinan tidak ada pesangon yang diberikan ke pekerja.

"Yang pertama kali harus dilakukan adalah menggunakan dana darurat. Misalnya sekarang sudah kerja dari rumah sekitar tiga minggu, maka dana darurat yang harus disiapkan perlu sampai kebutuhan tiga sampai enam bulan, itu yang lebih dulu dipakai," katanya.

Bila dana darurat tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari usai PHK, maka bisa mulai cairkan instrumen investasi dari yang paling likuid, seperti reksadana. Instrumen seperti emas, deposito, saham, dan obligasi, menurutnya, harus yang paling akhir dicairkan.

Sebab, khawatirnya justru merugi di tengah kondisi pasar keuangan seperti ini. Sisanya, bila benar-benar tidak mencukupi, barulah menjual properti serta turunkan standar biaya hidup.

Kendati begitu, PHK pun sejatinya bukan akhir dari segalanya. Sebab, ada beberapa perusahaan yang masih memberikan pesangon kepada pekerja sehingga bisa dimanfaatkan asal pintar menggunakannya.

"Jadi perlu diingat, PHK juga bukan akhir dari segalanya. Kalau dapat pesangon, justru bisa digunakan untuk cari peluang, investasi sekarang saat lagi pada turun, tahun depan bisa menuai hasilnya," ujarnya.

Hal ini, kata Andoko, setidaknya terjadi pada krisis keuangan 2008. Kala itu, kinerja pasar modal turun sampai 50 persen, namun di tahun depannya justru naik sampai 100 persen.

Nah, bila pekerja masih mendapat pesangon, Andoko mengatakan ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, bisa menyisihkan untuk investasi asal pekerja belum berkeluarga, tidak menanggung kebutuhan keluarga, dan masih berusia cukup muda.

Untuk korban PHK yang punya pesangon dan ingin investasi, Andoko menyarankan agar investasi ditempatkan di instrumen seperti deposito dan obligasi. Sebab, memiliki nilai yang lebih pasti.

Kedua, gunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan dana darurat. Ini cocok untuk tipe pekerja yang sudah mendekati umur pensiun.

"Rata-rata usia harapan hidup orang Indonesia sampai 70 tahun, kalau sekarang sudah 50 tahunan, dekat pensiun, maka pesangonnya bukan hanya untuk hidup sekarang tapi sampai 20 tahun ke depan, jadi perlu lebih cermat," katanya. (agt)