Salah satu hotel bintang lima, yakni Hermes Palace Hotel di Banda Aceh, misalnya, terpaksa menutup unitnya untuk sementara waktu karena tingkat okupansi menurun drastis akibat pandemi Covid-19.
General Manager Hermes Palace Hotel, Budi Syaiful, mengatakan bahwa penutupan sementara hotel ini sesuai imbauan pemerintah untuk menerapkan pembatasan fisik dan sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka tetap jadi karyawan hotel, kita bayar 50 persen dan THR," ujarnya.
General Manager Kyriad Muraya Hotel Banda Aceh, Bambang Pramusinto, menyebutkan bahwa dalam bulan April 2020, pihaknya memprediksi akan menelan kerugian hingga Rp 3 miliar.
"Tingkat hunian hotel terperosok dalam. Bulan Maret, kami rugi Rp 1,2 miliar. Bulan ini (April), diprediksi akan rugi Rp 3 miliar," ujarnya.
Meski mengalami kerugian, hotel bintang empat tersebut memilih bertahan dan tidak mengambil kebijakan untuk tutup. Hanya saja, jumlah kamar yang dibuka dikurangi.
Bambang menyampaikan bahwa sebagian karyawannya juga sudah diminta untuk mengambil cuti secara bergantian.
[Gambas:Video CNN]
Untuk gaji, mereka juga terpaksa harus dibayar bergantian, dengan jumlah kurang dari setengah gaji normal per bulannya.
"Gaji mereka berkurang, cuma 40 persen dari gaji normalnya," ucap Bambang.
Pihaknya berharap Pemerintah Kota Banda Aceh mengambil langkah, seperti pembebasan semua pajak, stimulus dari Perusahaan Listrik Negera (PLN), dan relaksasi perbankan bisa segera terealisasi selama pandemi corona.
"Kalau di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sudah ada kejelasan dari pemerintah, baik yang dari wali kota maupun gubernurnya, sudah ada kabar. Kita di Aceh belum ada," sebutnya. (dra/has)