Antara lain, groseri atau belanja bahan makanan, logistik dan pengiriman, perdagangan elektronik atau e-commerce, hingga jasa layanan antar makanan.
Sektor-sektor bisnis di atas terkait gaya hidup dirumahaja yang didengungkan sebagian besar masyarakat. Dari sana, ia menyebut muncul peluang untuk bisnis baru. Ujung akhir dari gaya hidup dan bisnis stay at home tersebut adalah stay at home economy.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang kita mungkin masih berbelanja ke luar, tapi dengan PSBB makin ketat, maka semua akan beralih ke online," imbuh dia.
Ia meyakini belanja online tidak hanya untuk produk fesyen seperti yang terjadi selama ini, tapi mulai mengarah ke grocery dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Meningkatnya permintaan belanja online ini. akan mendongkrak bisnis logistik.
Masih bersumber dari Nielsen, ia mengungkapkan permintaan jasa pesan antar makanan juga naik. Pada Maret, sebanyak 22 persen yang di survei Nielsen mengaku lebih sering menggunakan layanan pesan antar makanan dan 19 persen lebih sering untuk melakukan take-away.
Dengan pemberlakuan PSBB, maka intensi konsumen untuk memesan makanan via online akan terus merangkak.
Lebih lanjut ia bilang remote working, layanan streaming, media dan telekomunikasi, dan pembelajaran online. Ia menyatakan covid-19 juga akan memberikan peluang besar bagi jasa penyimpanan data, layanan farmasi online, layanan kebersihan, dan fitness dari rumah.
[Gambas:Video CNN]
Selain itu, masyarakat juga mulai terbiasa dengan pekerjaan yang tidak mengharuskan di kantor alias remote working. Ia menduga perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan setelah wabah usai justru akan melakukan efisiensi dengan menerapkan WFH.
Ia melanjutkan penyebaran covid-19 juga memberikan peluang besar bagi pembelajaran online dan layanan farmasi online. Dua sektor tersebut memiliki pangsa pasar kecil sebelum kemunculan pandemi, seperti Ruang Guru dan Halodoc.
"Setelah covid-19, tiba-tiba pasarnya menjadi masif, bahkan bukan tidak mungkin Ruang Guru dan Halodoc bisa menjadi next unicorn, karena mendapatkan keuntungan luar biasa," terang Yuswohady.
Sektor Terpukul
Sebaliknya, ia memprediksi terdapat 11 sektor yang akan terpukul akibat penyebaran pandemi ini. Sektor tersebut meliputi, hotel dan pariwisata, penerbangan, pameran atau Meetings, incentives, conferences and exhibitions (MICE), restoran, dan bioskop atau hiburan.
Yuswohady mengatakan sektor leisure justru menjadi lini bisnis yang terdampak paling parah akibat social distancing. Padahal sebelumnya, sektor ini digadang-gadang mendapatkan banyak keuntungan dari perubahan pola perilaku milenial.
Sebut saja, Traveloka yang belum lama dinobatkan sebagai unicorn Indonesia terpaksa harus melakukan PHK kepada karyawan akibat pandemi ini.
"Semua yang jadi pilar leisure ekonomi sekarang ibaratnya kalau listrik PLN itu black out," katanya.
Lalu, olahraga, pusat perbelanjaan, barang elektronik, otomotif, minyak dan gas, serta properti dan konstruksi.
Ia menuturkan sebelum pandemi, mal telah beralih fungsi bukan lagi tempat belanja, tapi leisure dan tujuan kuliner. Kemudian, pandemi ini memaksa pusat perbelanjaan hanya membuka gerai untuk kebutuhan rumah tangga dan kesehatan.
Selain itu, berkurangnya aktivitas di luar rumah membuat operasional jasa transportasi berkurang sehingga menekan permintaan minyak dan gas. Oleh karenanya, tidak heran jika harga minyak dunia pun turun drastis karena lesunya permintaan.
"Skenario terburuk, saya percaya apa yang dikatakan Bill Gates bahwa kondisi ini full recovery di 2022. Bahkan, kalau vaksin tidak ditemukan akan lebih lama. Kondisi yang seperti ini nantinya sudah tidak darurat lagi, namun menjadi kondisi yang biasa saja, menjadi the new normal," tandasnya. (ulf/bir)