Para ekonom memperkirakan laju ekonomi negara maju di Benua Eropa menyusut hingga 10 persen pada kuartal II 2020.
Dilansir dari AFP, Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire menyebut perekonomian Prancis bakal merosot hingga 8 persen, lebih tinggi dari perkiraan awal yang ia sampaikan pekan lalu, 6 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perpanjangan itu sejalan dengan peningkatan jumlah kasus positif virus corona. Berdasarkan data Worldometers, jumlah kasus positif virus corona Prancis per Selasa (14/4) tercatat 136.779 kasus dengan 14.967 pasien meninggal dunia dan 27.718 sembuh.
Hal serupa juga terjadi pada Jerman, beberapa lembaga riset dan analisis seperti IFO (Lembaga Riset Ekonomi), DIW (lembaga Riset Ekonomi Jerman) dan RWI (Lembaga Riset Ekonomi Leibniz) menyebut dalam laporan musim semi tahunan perekonomian Jerman akan menyusut 9,8 persen secara tahunan pada kuartal II 2020.
Penurunan pada kuartal II 2020 disebut dua kali lebih besar dari yang terlihat selama krisis keuangan pada 2008-2009 yang menandai penurunan paling tajam sejak pencatatan oleh lembaga pada 1970.
"Selama setahun penuh, perekonomian di Jerman diprediksi kontraksi sebesar 4,2 persen," tambahnya.
Prediksi tersebut sejalan dengan pernyataan Menteri Ekonomi Jerman Peter Altmaier yang baru-baru ini menyebut jika perekonomian Jerman akan terkontraksi sekitar lima persen pada tahun ini.
Sebelumnya, Jerman telah menggelontorkan 'paket' sebanyak 1,1 triliun euro untuk meredam 'pukulan' bagi perusahaan dan para karyawan. Paket tersebut mencakup jaminan negara untuk pinjaman ke bisnis, akses yang lebih mudah ke tunjangan bagi pekerja yang memiliki jam kerja lebih sedikit, dan dukungan langsung untuk perusahaan yang paling terpukul atas pandemi covid-19 ini.
Sementara, wabah virus corona dikhawatirkan akan mengerek tingkat pengangguran di Jerman. Per Selasa (14/4), jumlah kasus infeksi corona di Jerman mencapai 130.072 kasus dengan 3.194 orang dinyatakan meninggal dunia dan 68.200 telah sembuh.
"Pengangguran bisa naik menjadi 5,9 persen berdasarkan laporan tahun ini," jelas perwakilan lembaga riset ekonomi di Jerman.
Tak hanya di Eropa, Bank Dunia memperingatkan wilayah sub-sahara Afrika kemungkinan untuk mengalami resesi pertamanya dalam 25 tahun terakhir karena wabah corona. Per Selasa (14/4), kasus positif corona terjadi di hampir 60 wilayah Benua Afrika di mana jumlahnya mencapai 16.027 kasus dengan 838 pasien meninggal dunia dan 3.052 pasien dinyatakan sembuh.
Wakil Bank Dunia untuk Afrika Hafez Ghanem menyebut pandemi covid-19 akan sangat memukul negara-negara di Afrika meski penyebaran virus tak secepat di negara Benua Eropa seperti Prancis dan Italia.
"Pandemi covid-19 sedang menguji batas masyarakat dan ekonomi di seluruh dunia, dan negara-negara Afrika cenderung terpukul sangat keras," kata dia.
Diperkirakan tiga negara di Afrika yang paling terpukul atas pandemi ini antara lain Nigeria, Afrika Selatan, dan Angola.
[Gambas:Video CNN]
Kepala Bank Dunia untuk Afrika Albert Zeufack memperkirakan PDB ketiga negara tersebut akan menyusut di kisaran enam dan tujuh persen pada tahun ini. Terlebih, harga minyak dunia juga tengah anjlok.
"Ini akan menjadi resesi terdalam di dunia tetapi juga mempengaruhi Afrika, dan alasan mengapa ini sangat serius adalah karena itu bukan hanya krisis kesehatan, ini adalah krisis kesehatan yang akan dikombinasikan dengan krisis ekonomi dan berpotensi pangan krisis di negara-negara Afrika," tambahnya.
Adapun total kasus positif corona di seluruh dunia menembus 1.934.557 kasus per Selasa (14/4). Dari angka tersebut, 120.438 pasien meninggal dan 456.737 dinyatakan sembuh.
(khr/sfr)