Praktisi pasar saham Ellen May menilai kondisi itu tak mengherankan mengingat tingginya permintaan obat dan kebutuhan alat kesehatan di tengah meledaknya angka korban covid-19.
"Permintaan akan kebutuhan produk kesehatan masih tergolong tinggi, karena saat ini kesehatan menjadi prioritas utama bagi setiap orang," seperti dikutip dari riset Ellen May Institute pada Rabu (15/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun lalu, KAEF menderita kerugian sebesar Rp12,7 miliar, berbanding terbalik dengan keadaan tahun sebelumnya yang berhasil meraup untung sebesar Rp491,56 miliar. Meski perusahaan mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 11,12 persen dari Rp8,45 triliun pada 2018 menjadi Rp9,4 triliun pada 2019, perusahaan dibebani oleh beban penjualan dan beban usaha.
Dari selisih kurs mata uang asing dan rupiah, KAEF mencatatkan rugi sebesar Rp5,05 miliar. Utang perusahaan pun naik dari Rp7,18 triliun menjadi Rp10,93 triliun pada 2019 dengan perbandingan yoy.
Lihat juga:IHSG Diramal Menguat Terbatas |
Nasib serupa terjadi pada INAF yang mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp38,84 miliar pada kuartal III 2019. Kerugian didulang dari penurunan penjualan sebesar Rp21,06 persen atau setara dengan Rp583 miliar. Jumlah aset perseroan tercatat menurun sebesar 8,08 persen pada kuartal III 2019 atau sebesar Rp1,32 triliun.
Melihat kinerja kedua saham pelat merah tersebut, Ellen tak menyarankan investor melakukan belanja saham kedua perusahaan tersebut. "Dilihat dari rasio PBV (rasio harga per buku), KAEF mempunyai PBV terendah dibanding KLBF dan INAF," ungkapnya.
Namun kinerja cukup baik ditorehkan oleh KLBF, secara konsisten EPS perseroan positif selama tiga tahun berturut-turut. Pada 2017 KLBF mencatatkan EPS sebesar 51,25, untuk 2018 EPS naik menjadi 52,39, dan pada 2019 EPS kembali membaik menjadi 53,45.
Pendapatan perseroan juga naik 4,2 persen menjadi Rp10,24 triliun pada 2019 meski KLBF mencatatkan rugi selisih kurs sebesar Rp13,63 miliar.
Aset perusahaan pada 2019 naik 11,67 persen dari posisinya tahun sebelumnya Rp20,26 triliun. Liabilitas juga mengalami kenaikan aik menjadi Rp3,51 triliun dari 2018 yaitu Rp2,85 triliun.
"Saham KLBF yang berfundamental bagus, lebih cocok untuk investasi, terlebih KLBF juga memberikan deviden Rp26 per saham bagi investor pada tahun 2019," saran Ellen.
[Gambas:Video CNN]
Sepaham, pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo juga menyebut saham industri farmasi kian bersinar saat pandemik covid-19 menyerang. Lucky menyarankan pelaku pasar untuk memantau KAEF yang berhasil menguat ke level Rp1.370 per saham pada perdagangan kemarin (14/4). Harga target yang dipasangnya ialah Rp1.475 per saham.
Dilihat dari performanya, perseroan memang tengah gagah dengan kenaikan sebesar 77,92 persen dalam sebulan terakhir. Kinerja KAEF dalam 3 bulan terakhir pun konsisten menghijau di kisaran 22,32 persen. Sehingga, Lucky memutuskan KAEF pantas dibanderol seharga Rp1.475 per saham untuk perdagangan minggu ini.
"Untuk jangka menengah KAEF cenderung menguat dengan target Rp1.510," kata dia.