BI merinci utang tersebut, US$203,3 miliar di antaranya berasal dari sektor publik (pemerintah dan bank sentral). Sementara itu, US$204,2 miliar berasal dari utang sektor swasta (termasuk BUMN)
Bank sentral dalam pernyataan yang dikeluarkan melalui websitenya menyatakan penurunan pertumbuhan utang luar negeri tersebut disebabkan oleh perlambatan ULN publik. Mereka mencatat ULN pemerintah tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkembangan ini dipengaruhi oleh perlambatan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan. Pada Februari 2020, ULN perusahaan bukan lembaga keuangan tumbuh sebesar 6,9 persen atau melambat dari 7,7 persen dibanding Januari 2020.
Sementara itu, ULN lembaga keuangan tumbuh meningkat dari 0,3 persen pada Januari 2020 menjadi 2,7 persen pada pada Februari 2020. Beberapa sektor dengan pangsa ULN terbesar adalah sektor jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik, gas, uap/air panas & udara dingin (LGA), pertambangan & penggalian, dan industri pengolahan.
[Gambas:Video CNN]
Pangsa utang sektor tersebut mencapai 77,4 persen dari total ULN swasta. BI menyatakan secara garis besar, ULN Indonesia tersebut tetap sehat.
Pasalnya, utang dikelola dengan prinsip kehati-hatian. Selain itu, kesehatan utang juga tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada Februari 2020 yang sebesar 35,9 persen.
Posisi tersebut kata BI, menurun dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya yang sebesar 36,3 persen. Kesehatan utang kata BI juga tercermin dari struktur ULN Indonesia yang didominasi oleh ULN berjangka panjang.
Pangsa utang jangka panjang mencapai 89,2 persen dari total ULN Indonesia.