"Ini berarti, konsumen berharap pada akhir Mei 2020 situasinya sudah terkendali," ujar CEO Survey Sensum Rajiv Lamba dalam hasil riset yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (15/4).
Survei dilakukan kepada 500 responden pada periode 20-27 Maret 2020 atau pada periode kasus virus corona mencatatkan peningkatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka khawatir dikucilkan, tidak bisa bertemu dan bercengkrama dengan orang lain yang takut tertular covid-19 selama berbulan-bulan," tutur Rajiv.
Lalu, kepanikan apabila toko-toko kehabisan stok makanan dan kebutuhan pokok. Sebanyak 59 persen responden menyatakan kekhawatiran tersebut.
[Gambas:Video CNN]
Kekhawatiran tersebut mendorong perubahan perilaku konsumen secara signifikan. Kini, konsumen lebih fokus pada gaya hidup sehat dan higienis.
Perubahan tersebut ditunjukkan dengan beberapa perilaku salah satunya peningkatan pembelian cairan pembersih tangan. Angkanya melonjak hingga 85 persen.
"Orang-orang kini jauh lebih perhatian dengan higienitas tangannya dengan mengaplikasikan cairan pembersih tangan berkali-kali dalam sehari," katanya.
Selain itu, konsumen juga menerapkan pola hidup sehat lainnya, seperti lebih sering minum air, mengkonsumsi buah-buahan, sayur, dan vitamin. Menariknya, 18 persen konsumen mengaku lebih sering berolahraga di rumah atau sekitar lingkungannya.
Lihat juga:Bisnis Pinjol Mulai Kering Karena Corona |
Meningkatnya aktivitas di rumah, lanjutnya, mendekatkan konsumen dengan aktivitas digital. Hasil survei memaparkan 70 persen responden menjajal setidaknya satu kategori layanan digital baru selama di rumah.
Detailnya, sebanyak 38 persen konsumen mencoba konsultasi dengan tenaga medis secara online. Lalu, 34 persen konsumen mencoba layanan pendidikan online, mengingat para siswa harus belajar di rumah.
Selain itu, kelebihan waktu di rumah mendorong konsumen bereksplorasi dengan pilihan hiburan. Misalnya, 25 persen konsumen menonton siaran hiburan digital, seperti Netflix, Viu, dan sebagainya.
Tak hanya hiburan, 20 persen konsumen juga menggunakan aplikasi belanja online, sedangkan 13 persen konsumen mengikuti fitness online. (ulf/bir)