Penurunan tersebut dibandingkan rata-rata penjualan pada Januari dan Februari 2020. Ia mengatakan penurunan terbesar penjualan BBM terjadi di DKI Jakarta, yakni 59 persen.
Penurunan kedua terbesar terjadi di Bandung sebesar 57 persen, dan Makassar 53 persen. Sementara itu, penurunan permintaan di kota lain rata-rata di atas 45 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, di tengah penurunan permintaan, Pertamina juga mendapatkan dua pukulan dari sentimen global. Pertama, pelemahan harga minyak mentah global yang terjadi akibat kenaikan pasokan.
Pada Rabu (15/4), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei turun US$1,91 atau 6,45 persen ke posisi US$27,69 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei merosot 24 sen atau 1,19 persen menjadi US$19,87 per barel.
Nicke menambahkan pelemahan tersebut memberatkan Pertamina. Pasalnya, di satu sisi pihaknya harus membayar impor minyak menggunakan dolar AS.
Tapi, di sisi lain pihaknya menjual dengan hasil rupiah. Pada Kamis (16/4) pukul 14.00 WIB rupiah melemah 0,90 persen ke level Rp15.715 per dolar AS.
"Situasi ini belum pernah terjadi, dilihat dari sales merupakan terendah dalam sejarah pertamina. Kondisi ini berdampak ke operasional kilang dan keuangan Pertamina," ucapnya.
[Gambas:Video CNN]
(wel/ulf)