Persi mengaku kesulitan mendapatkan alat kesehatan dalam jumlah yang diinginkan pada situasi darurat covid-19 seperti saat ini.
Alat-alat kesehatan yang dimaksud Persi adalah instrumen atau apapun berdasarkan Permenkes yang tidak mengandung obat yang bisa digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan, merawat, dan lain sebagainya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lia menuturkan rumah sakit yang membayar lebih dahulu adalah yang bisa mendapatkan alat-alat tersebut. Di luar masalah kuantitas, harga yang melonjak karena tingginya permintaan juga merepotkan Persi.
"Kalau rumah sakit kan agak repot. Karena sekarang ini rumah sakit seolah-olah harus menyiapkan uang tunai," tutur Lia.
[Gambas:Video CNN]
"Satu hal lagi yang paling repot adalah soal harga. Harga ini kelihatannya bisa berlipat ganda tingginya. Apakah karena permintaannya tinggi sehingga barang sedikit. Jadi, siapa cepat dia dapat," kata Lia melanjutkan.
Persi sendiri tidak bisa berbuat banyak soal belum terpenuhinya kebutuhan alat-alat kesehatan ini karena alasan bahan baku yang berada dfari luar negeri. Persi bersyukur bantuan dari pemerintah maupun donatur bisa sedikit membantu meskipun belum memenuhi kebutuhan.
"Kelihatannya, menurut saya, kebutuhan yang meningkat pesat itu yang menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan yang kita minta," ujar Lia.
Sebelumnya melalui Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan, Menteri BUMN Erick Thohir menyentil soal industri alkes dalam negeri yang kekurangan bahan baku karena mafia besar baik global maupun lokal.