Dikutip dari CNN.com, rencana ini merupakan dampak dari tekanan bisnis akibat penyebaran pandemi virus corona atau covid-19. Bahkan, pandemi corona juga meredupkan prospek ekonomi dan bisnis penerbangan ke depan.
"Prospek ekonomi yang menantang mengartikan bahwa kami memiliki beberapa keputusan sulit di depan dalam perencanaan maskapai kami dan secara keseluruhan tenaga kerja akan menjadi lebih kecil dari saat ini, mulai 1 Oktober," tulis manajemen maskapai dalam surat kepada para karyawan, dikutip Senin (20/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan mengaku telah memangkas frekuensi penerbangan. Frekuensi terbang akan dipangkas hingga 90 persen pada Mei dan Juni nanti. Namun, diperkirakan permintaan terbang pun nihil dan kondisinya tidak akan membaik sampai 2021 mendatang.
Data perusahaan mencatat jumlah penumpang kurang dari 200 ribu pada dua pekan pertama April 2020. Jumlah tersebut turun sekitar 97 persen dibandingkan 6 juta penumpang pada periode yang sama tahun lalu.
"Permintaan perjalanan pada dasarnya nol dan tidak menunjukkan tanda-tanda membaik dalam waktu dekat. Kami berharap setidaknya bisa menerbangkan beberapa penumpang di awal Mei meski lebih sedikit," ungkap manajemen.
[Gambas:Video CNN]
(uli/bir)