Direktur Utama Nicke Widyawati mengungkap risiko kehilangan ini disebabkan oleh penyebaran virus corona yang membuat harga minyak dunia anjlok dan kelebihan supply.
"Dalam skenario sangat berat, maka profit akan berkurang 51 persen. Itu dengan asumsi yang sudah ditetapkan pemerintah," ujarnya dalam RDP dengan Komisi VII pada Selasa (21/4).
Berdasarkan RKAP Pertamina, target laba tahun ini dipatok US$2,2 miliar dan pendapatan mencapai US$58,33 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nicke memaparkan selain karena pendapatan yang tergerus, profit pun akan ikut berkurang karena selisih kurs. Pasalnya, OPEX dan CAPEX Pertamina menggunakan dolar Amerika Serikat (AS), sementara mayoritas pemasukan menggunakan rupiah.
"Karena semua pihak kesulitan cash flow jadi kami berikan keringanan ke prime customer," tambahnya.
[Gambas:Video CNN]
(age/sfr)