Mengutip Antara, Rabu (22/4), Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 631,56 poin atau 2,67 persen menjadi 23.018,88. Lalu, S&P 500 turun 86,6 poin atau 3,07 persen ke level 2.736,56. Sedangkan, Nasdaq melemah 297,5 poin atau 3,48 persen jadi 8.223,23.
Sebanyak 11 sektor utama S&P 500 kompak merosot, di mana sektor teknologi memimpin pelemahan sebesar 4,1 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jatuhnya harga minyak mentah global disebabkan banjir pasokan karena melemahnya permintaan pasar akibat pandemi virus corona. Kondisi tersebut membuat kepanikan di pasar karena permintaan merosot tajam hingga 30 persen secara global.
Ironisnya, persediaan minyak meningkat selama berminggu-minggu setelah Arab Saudi dan Rusia gagal mencapai kesepakatan pengurangan produksi pada awal Maret.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu-sekutunya, termasuk Rusia, akhirnya mengumumkan pengurangan produksi pada awal April.
Baik Arab Saudi maupun Rusia mengatakan mereka siap untuk mengambil langkah-langkah tambahan guna menstabilkan pasar minyak bersama dengan produsen lain. Namun, hingga saat ini keduanya belum mengambil tindakan.
"Matematikanya cukup sederhana. Produksi minyak saat ini sekitar 90 juta barel per hari, tetapi permintaan hanya 75 juta barel per hari," kata Kepala Investasi dan Kepala Manajemen Kekayaan Global di IDB Bank, Gregory Leo.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/bir)