Gubernur BI Perry Warjiyo menilai proyeksi dari berbagai lembaga sejatinya sah-sah saja, namun bank sentral nasional dan pemerintah sejatinya juga masih yakin bahwa tekanan ekonomi pada tahun ini masih bisa membuat Indonesia menikmati pertumbuhan di atas dua persen. Menurutnya, proyeksi dari mana pun sangat bergantung pada berapa lama estimasi pemulihan ekonomi itu sendiri.
"Termasuk dari IMF maupun (proyeksi) pemerintah dan BI, itu semua sangat tergantung pada pola V shape-nya seperti apa, apa bottomline-nya satu bulan atau dua bulan atau bagaimana. Lalu, pola recovery-nya seperti apa dan tergantung pada penanganan Covid-19 di masing-masing negara," jelas Perry, Rabu (22/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan stimulus moneter dan makroprudensial melalui penurunan tingkat suku bunga acuan, pelonggaran batas pencadangan kas bank di BI, dan lainnya. Tujuannya, agar tekanan ekonomi akibat pandemi corona tidak menekan sektor keuangan terlalu dalam.
"Tidak hanya program pemulihan ekonomi, tapi ada juga reformasi struktural untuk meningkatkan investasi dan pengaruh tingginya pertumbuhan ekonomi," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
Kendati cukup optimis untuk tahun ini, BI memperkirakan ekonomi Indonesia tahun depan kemungkinan akan berada di kisaran 5,2 persen sampai 6 persen. Proyeksi ini lebih rendah dari ramalan IMF yang mencapai 8,2 persen pada tahun depan.
"Tahun depan lebih dari 5,2 persen, bisa ke 6 persen karena pemulihan ekonomi dan base statistic yang rendah di tahun ini. Jadi akan lebih tinggi karena base effect tahun ini rendah," ujarnya.