Dalam wawancara dengan media Jepang, Tadashi mencontohkan Indonesia sedang mencoba mendorong energi terbarukan. Namun, energi terbarukan belum stabil karena masih bergantung pada kondisi cuaca.
Sebagai solusi, JBIC menawarkan untuk beralih ke pembangkit listrik termal LNG (liquefied natural gas), yang lebih sedikit CO2 (karbon dioksida) daripada tenaga batu bara, untuk mengimbangi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah Mizuho, juga diikuti oleh Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (SMFG) Jepang yang pada Kamis (16/4) menyatakan tidak akan lagi memberikan pinjaman kepada PLTU batu bara baru mulai 1 Mei mendatang.
Sebagai catatan ada empat proyek PLTU Batu Bara yang dibiayai JBIC yakni PLTU Cirebon 2 1x1000 MW, PLTU Tanjung Jati B 2x1000 MW, PLTU Kalselteng 2 2x100 MW dan PLTU Batang 2x1000MW
"Ini merupakan sinyal yang jelas bahwa pembiayaan internasional, baik swasta maupun publik semakin menjauh dari batu bara yang berisiko tinggi secara ekonomi, politik, dan reputasi. Namun, JBIC harus menunjukkan komitmennya secara konkret dengan menghentikan investasi PLTU batu bara di Indonesia dan beralih ke energi bersih dan terbarukan," ujarnya.
Tata menambahkan Indonesia memiliki potensi energi surya dan angin yang besar dengan tingkat utilisasi yang rendah. Dia menilai JBIC pun harus menghindari untuk beralih sementara ke LNG karena ini justru akan menghambat dan menunda transisi energi.
"Sementara kewajiban pemerintah Indonesia adalah menyediakan regulasi dan kebijakan yang mendukung investasi energi bersih dan terbarukan," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN]
(age/bir)