Ketua Harian AFPI Kuseryansyah mengatakan sebagian besar fintech P2P lending telah melakukan pengecekan terhadap calon peminjam. Hal ini, menurut dia, akan berguna bagi pemberi pinjaman (lender).
Selain itu, industri fintech P2P lending juga bisa meningkatkan pengelolaan kualitas portofolio pinjaman dana kepada nasabah, termasuk menurunkan jumlah pinjaman bermasalah di tengah penyebaran virus corona.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, Ketua Bidang Technical Support AFPI Ronald Andi Kasim menjelaskan pusat data fintech lending akan sangat membantu perusahaan dalam menyalurkan pinjaman di tengah penyebaran virus corona.
Sejak Januari 2020, total pengecekan data lewat pusat data fintech tercatat lebih dari 15 juta kali dengan rata-rata sekitar 140 ribu pengecekan data setiap harinya.
Lihat juga:Bisnis Pinjol Mulai Kering Karena Corona |
Direktur Utama TunaiKita Tumbur Pardede mengatakan pihaknya telah memanfaatkan pusat data fintech lending. Ia bilang pusat data itu dapat menolong perusahaan dari ancaman debitur dengan catatan perilaku meminjam buruk dan identifikasi penipuan.
"Sistem ini juga sangat membantu sebagai parameter penting dalam menentukan kelayakan pelanggan, yakni dapat mendeteksi dan mencegah calon nasabah melakukan peminjaman berlebih di banyak platform fintech P2P lending dalam waktu bersamaan," jelas Tumbur.
"Dengan data FDC, maka kualitas dari para peminjam yang disetujui Danamas menjadi lebih baik. FDC berdampak pada tingkat keberhasilan pembayaran pinjaman," katanya.
Sebagai informasi, OJK mencatat penyaluran pinjaman Fintech P2P Lending hingga akhir Februari 2020 sebesar Rp 95,39 triliun atau meningkat 225,58% secara tahunan (year on year/yoy). Total fintech P2P lending yang terdaftar di OJK sebanyak 161 perusahaan.
[Gambas:Video CNN]
(aud/bir)