Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan kebutuhan valas biasanya memang tinggi jelang akhir bulan. Permintaan yang tinggi itu membuat ketersediaan dolar Amerika Serikat (AS) semakin terbatas, sehingga rupiah tertekan terhadap dolar AS.
"Kalau dari dalam negeri tentu kebutuhan valas korporasi jelang akhir bulan relatif tinggi. Ini menambah permintaan valas," ucap Perry dalam video conference, Rabu (29/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada beberapa faktor yang membuat kami yakin rupiah mengarah ke Rp15 ribu per dolar AS," katanya.
Salah satu faktor yang ia maksud adalah proyeksi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang di bawah 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I 2020. Angka itu lebih rendah dari target prediksi awal yang sebesar 2,5 persen-3 persen dari PDB.
[Gambas:Video CNN]
"Kalau defisit transaksi berjalan lebih rendah berarti kekurangan devisanya juga lebih rendah, ini akan mendukung penguatan nilai tukar rupiah," tutur Perry.
Faktor lainnya adalah intervensi BI dalam melakukan intervensi dengan membeli surat berharga negara (SBN) yang dilepas asing melalui pasar sekunder, aliran modal asing yang diprediksi kembali meningkat pada kuartal III dan kuartal IV 2020.
Sebagai informasi, rupiah kemarin sore terkoreksi 0,39 persen atau 60 poin dari Rp15.505 per dolar AS menjadi Rp15.445 per dolar AS. Namun, pagi ini mata uang Garuda terpantau menguat 0,39 persen ke area Rp15.385 per dolar AS.