"Apakah terpikirkan kartu prakerja jadi BLT murni? Kartu prakerja ini tidak kami pikirkan dari awal jadi BLT," ujar Ketua Tim Pelaksana Kartu Prakerja Mohammad Rudy Salahuddin dalam diskusi virtual, Rabu (29/4).
Lebih lanjut, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi UKM Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian itu mengatakan kartu prakerja tidak bisa menjadi BLT karena tidak memiliki basis data tetap seperti program bantuan sosial (bansos) lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini tercermin dari alokasi biaya yang sebelumnya lebih banyak diberikan ke pelatihan dengan rata-rata Rp5 juta, kini hanya tinggal Rp1 juta. Kelebihannya dialihkan menjadi insentif dengan nominal Rp3,55 juta per peserta.
"Jadi kami berusaha menyasar 25 persen orang termiskin di Indonesia, bahkan diperluas menjadi 40 persen termiskin," imbuhnya.
Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Pungky Sumadi menyebut kartu prakerja tidak bisa menjadi BLT murni karena tujuannya untuk meningkatkan keterampilan pekerja. Hal ini diharapkan bisa mendongrak daya saing pekerja Indonesia dari negara-negara lain.
Lebih miris lagi, menurut risetnya, kualitas tingkat pendidikan sarjana di Indonesia setara dengan lulusan SMA di negara-negara Skandinavia. Indonesia, katanya, lemah di penguasaan matematika, engineering, dan lainnya.
"Jadi konsep program ini tidak bisa jadi BLT," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN]
(uli/bir)