Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan dalam formulasi penentuan harga BBM, Pertamina menggunakan patokan harga minyak global dalam dua bulan ke belakang. Itu berarti, untuk menentukan harga BBM April menggunakan patokan Februari.
"Kalau hitung hari ini, maka yang kami lihat adalah Februari, sehingga harga masih tinggi," ujarnya dalam video conference, Kamis (30/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itu berarti, bisa saja Pertamina membeli langsung BBM di pasar global dan menutup semua kilang-kilangnya karena lebih murah membeli BBM ketimbang minyak mentah.
Namun, kebijakan tersebut tentunya tidak diambil perusahaan minyak negara tersebut. Pasalnya, operasional kilang terkait dengan berbagai aspek, antara lain, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) hingga pekerja di kilang-kilang Pertamina.
Di sisi lain, meskipun belum menyesuaikan harga BBM, Pertamina telah menawarkan diskon berupa uang kembali (cashback) bagi pelanggan Pertamax dan Dex series sebesar 30 persen. Diskon diberikan bagi pelanggan yang bertransaksi secara non tunai menggunakan aplikasi milik BUMN selama periode 31 Mei-16 Juni 2019.
Selain itu faktor tersebut, ia menjelaskan Pertamina juga mengalami tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah. Pasalnya, 93 persen pengeluaran perseroan menggunakan kurs dolar AS.
Tak hanya itu, ia menuturkan permintaan turun tajam. Secara nasional, permintaan BBM turun hingga 25 persen. Bahkan di kota-kota besar, penurunan permintaan lebih dari 50 persen.
[Gambas:Video CNN]
"Itu harganya sudah lebih rendah dari kalkulasi di publik. Walaupun permintaan turun, arus kas negatif, kami tetap spending dalam dolar AS, tapi kami baru luncurkan cashback 30 persen," tuturnya.
Sebelumnya, Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) menilai terdapat indikasi harga BBM yang berlaku saat ini terlalu mahal, sehingga membebani masyarakat.
Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin mengatakan pangkal permasalahannya adalah komponen penyusunan struktur harga BBM. Struktur harga ini ditengarai menjadi penyebab harga BBM sulit turun meskipun harga minyak mentah global anjlok.
Ia membandingkan harga penjualan pokok (HPP) BBM di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara lain seperti Malaysia dan Australia. Bahkan, kualitas BBM di dua negara itu lebih baik dibandingkan Indonesia.
Sedangkan di Indonesia, untuk RON 98 berkadar sulfur maksimum 50 ppm atau standar EURO 4 (jenis Pertamax Turbo) HPP malah mencapai Rp7.387 per liter. Lalu, harga jual di SPBU sebesar Rp9.850 per liter.
"Ada potensi margin kelebihan biaya yang dinikmati oleh parasit BBM seperti para oil trader," katanya. (ulf/agt)