"Belum (diskusi). Kebanyakan asosiasi coba bergerak supaya ada kebutuhan tertentu yang disiapkan. Untuk menyerap kami belum bisa tahu karena industri sedang survival mode," ungkapnya pada Sabtu (2/5).
Shinta menyebut Apindo memang pernah dimintai pendapat oleh pemerintah mengenai standar yang dibutuhkan industri demi menyerap tenaga kerja yang mengikuti program kartu prakerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pengalamannya di dunia bisnis dan usaha, ia menyarankan pemerintah untuk mengarahkan pelatihan ke permintaan yang akan banyak dibutuhkan, yaitu informasi, teknologi, dan komunikasi (ICT).
"Permintaan akan sangat tinggi, itu dasar yang bisa menambah skill pekerja kalau ada ICT," katanya.
Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Antonius J Supit bilang bahwa pelatihan secara online tak dapat disamakan dengan vokasi yang dihilangkan sementara dalam program kartu prakerja selama pandemi virus corona.
Menurut Antonius sebaiknya bantuan diberikan dalam bentuk tunai (BLT). "Kalau vokasi sangat jelas ada praktek kerjanya, kalau ini hanya belajar melalui internet barang kali cocoknya untuk entrepreneurship. Dengan pelatihan singkat ini apa yang mereka dapatkan?" ucapnya.
Dia pun belum bisa komentar banyak jika standar yang ada saat ini dapat menjadi titik jual para peserta. Dia mengaku memilih menerima kembali karyawannya yang dirumahkan dibanding mereka yang telah mendapat pelatihan kartu prakerja.
"Saya belum lihat (jenis-jenis pelatihan), orang masih pusing saya mikirin bisnis sendiri yang lagi susah kok," pungkasnya (wel/wis)