Keduanya memproyeksi penyebaran penyakit covid-19 meluas hingga Mei 2020 dan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di wilayah tertentu di Pulau Jawa dan 1-2 kota di luar Pulau Jawa.
Jika proyeksi ini benar terjadi, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan menjadi 30,8 juta jiwa. "Atau 11,7 persen dari total penduduk Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (5/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan skenario ini, maka jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan menjadi 37,9 juta jiwa atau 14,35 persen dari total penduduk Indonesia.
Akhmad dan Ishak mengungkap tiga skenario ini dibangun dengan asumsi bahwa puncak pandemi corona terjadi pada kuartal II 2020, dan setelahnya berangsur-angsur mereda.
Keduanya melihat persebaran covid-19 yang saat ini terpusat di wilayah perkotaan menyebabkan potensi peningkatan kemiskinan lebih besar terjadi di perkotaan. Untuk skenario berat, potensi pertambahan jumlah penduduk miskin di perkotaan mencapai 3 juta, sementara di pedesaan 2,6 juta jiwa.
Untuk skenario lebih berat, potensi pertambahan jumlah penduduk miskin di perkotaan mencapai 6 juta, sementara di pedesaan 2,8 juta orang. Untuk skenario sangat berat, potensi pertambahan jumlah penduduk miskin di perkotaan dapat mencapai 9,7 juta, sementara di pedesaan hanya 3 juta jiwa.
Dampak dari penyebaran covid-19 ke pedesaan berpotensi menambah jumlah penduduk miskin di pedesaan dan lebih besar dibanding prediksi awal.
"Artinya, beban pemerintah untuk mengatasi persoalan kemiskinan, baik melalui subsidi, bantuan sosial dan lainnya, menjadi semakin besar," jelasnya.
[Gambas:Video CNN]
(age/bir)