Berkaca pada data BPS, konsumsi rumah tangga yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional hanya tumbuh 2,84 persen, terpaut jauh dari kuartal I 2019 sebesar 5,02 persen.
Padahal, porsi konsumsi rumah tangga terhadap ekonomi RI mendominasi mencapai 58,14 persen. Kepala BPS Suhariyanto mengaku konsumsi rumah tangga melambat cukup dalam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:PSBB, Konsumsi Rumah Tangga Jatuh 2,8 Persen |
Lalu, komponen lainnya yang membukukan pertumbuhan 3,65 persen, restoran dan hotel 2,39 persen, termasuk dua komponen lain yang menyumbang pertumbuhan negatif, yaitu pakaian, alas kaki dan jasa perawatan yang tercatat minus 3,29 persen, dan transportasi dan komunikasi yang negatif 1,81 persen.
Menarik mengupas bagaimana pakaian dan alas kaki bisa berkontribusi negatif sehingga Produk Domestik Bruto (PDB) RI menyentuh level terendahnya dalam 19 tahun terakhir.
Survei itu menyebut kelompok sandang alias pakaian terkontraksi hingga minus 45,9 persen. Tren penjualan eceran pakaian memang terus lesu sejak awal tahun, yakni negatif 27,5 persen pada Januari dan negatif 40,4 persen pada Februari.
Survei BI turut mengungkap penurunan penjualan eceran, antara lain disebabkan oleh penurunan permintaan di tengah kurang lancarnya pasokan sebagai dampak pandemi virus corona.
Namun demikian, responden memperkirakan penjualan eceran pada Mei 2020 kembali menggeliat. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) periode Mei sebesar 146,7 yang didorong peningkatan permintaan jelang perayaan lebaran.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/bir)