Namun, kabar gembira itu tak berlaku untuk beberapa sektor. Salah satunya, industri penerbangan yang terpukul, karena terpuruknya permintaan dan ramainya larangan terbang. Ekonom dan investor AS bahkan berpendapat tenaga kerja sektor industri penerbangan akan kehilangan pekerjaannya secara permanen.
Perusahaan industri digital General Electric (GE) menyatakan pada Senin (4/5), pihaknya memangkas lebih dari 13 ribu pekerjaan secara permanen setelah menghapus lini bisnis mesin jet. Langkah tersebut diambil untuk mengatasi kontraksi mendalam yang belum pernah menimpa perusahaan penerbangan komersial tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maskapai terseok-seok setelah dilarang memberhentikan staf untuk enam bulan ke depan sesuai dengan syarat yang disepakati saat menerima dana talangan sebesar US$5 miliar atau Rp75 triliun. Namun, perusahaan tetap berencana untuk memangkas jumlah staf pada Oktober mendatang.
Pengumuman ini menggarisbawahi gawatnya krisis yang dihadapi industri penerbangan yang diperkirakan memakan waktu tahunan untuk bangkit dari goncangan wabah virus corona.
Berbagai saham di sektor tersebut pun terjun bebas setidaknya sebesar 5 persen, seperti emiten DAL, LUV, dan AAL. Bahkan, investor sekelas Warren Buffett menyebut ia telah melepas seluruh kepemilikannya dan menyebut pilihannya untuk berinvetasi pada saham maskapai adalah sebuah kesalahan. (wel/bir)