Yakni, ia merinci tingkat konsumsi rumah tangga minus hingga 1,07 persen. Kemudian, pertumbuhan investasi juga minus 1,07 persen.
"Lalu, pertumbuhan ekspor untuk skenario sangat berat sekali 2020 minus 9 persen dan impor minus 16,21 persen," ucap Rizal dalam video conference, Rabu (6/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, ia juga menyiapkan skenario berat. Dalam hal ini, ekonomi Indonesia pada 2020 dapat tumbuh 1,42 persen.
Namun, skenario berat terjadi jika pemerintah bisa menangani penyebaran virus corona hanya dalam waktu satu bulan. Bila dihitung dari Maret 2020, maka harusnya selesai pada April 2020 kemarin.
Sebagai informasi, ekonomi Indonesia terpuruk ke level 2,97 persen pada sepanjang kuartal I 2020 kemarin. Pertumbuhan itu turun dibandingkan dibanding kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen.
Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2019 yakni 4,97 persen. Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi sebesar 2,41 persen jika dibandingkan kuartal IV 2019.
"Kalau kami lihat pergerakan pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2020 seperti dialami negara lain mengalami perlambatan cukup dalam," pungkas Suhariyanto.
[Gambas:Video CNN]
(aud/bir)