Ketua Dewan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan jumlah IPO dan penawaran mengalami kenaikan signifikan. Namun, nilai emisinya menurun.
"Kenaikan penawaran umum mencapai 34,2 persen secara tahunan. Namun, secara nilai turun 11,9 persen secara tahunan," ujar Wimboh, dalam video conference, Senin (11/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga 4 Mei lalu sudah ada 27 perusahaan IPO sepanjang 2020. Selain itu, sepanjang pandemi corona menyambangi Indonesia, masih ada 13 perusahaan yang tetap melantai di bursa saham dalam negeri. Terakhir, pada 4 Mei, yakni PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk.
Sebelumnya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memprediksi perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Berkurangnya jumlah IPO disebabkan oleh wabah virus corona (covid-19) yang membuat perekonomian lesu.
"Apakah mungkin seperti 2018 dan 2019? Realistis saja tentunya akan lebih rendah," ujarnya melalui video conference, Jumat (24/4).
Jumlah perusahaan yang melakukan IPO pada 2018 sebanyak 57 emiten. Dana segar yang diperoleh dari IPO sepanjang 2018 senilai Rp15,67 triliun. Pada 2019, jumlahnya turun tipis menjadi 55 perusahaan dengan raihan nilai emisi sebesar Rp14,78 triliun.
Namun, ia menyatakan jumlah perusahaan IPO di pasar saham Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara lainnya di Asia Tenggara per akhir Maret. Misalnya, Malaysia tercatat hanya 7 perusahaan menawarkan saham, lalu Singapura 3 perusahaan, dan Thailand 2 perusahaan. Sedangkan bursa saham Indonesia kedatangan 19 perusahaan baru hingga akhir Maret.
[Gambas:Video CNN]
(wel/age)