Dalam pernyataan yang dirilis dalam situs resminya, seperti dikutip CNN, Senin (11/5), pengajuan kebangkrutan ini merupakan dampak tak terduga dari pandemi covid-19. Avianca mempekerjakan 21 ribu orang di seluruh kawasan Amerika Latin.
Hampir 90 persen negara tempat Avianca beroperasi berada dalam batasan perjalanan total atau sebagian. CEO Avianca Anko van der Werff mengungkap krisis kali ini menjadi krisis paling menantang bagi perusahaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebanyak 1.000 pesawat milik perusahaan penerbangan di Amerika Serikat diproyeksi berhenti beroperasi sepanjang 2020. Ini terjadi karena setiap negara memberlakukan larangan perjalanan (travel ban) dan pembatasan penerbangan.
Mengutip CNN, CEO IATA Alexandre de Juniac memprediksi penerbangan di dunia merugi US$113 miliar atau Rp1.695 triliun jika wabah virus corona terus meluas. Kerugian ini sama dengan kerugian industri penerbangan ketika krisis keuangan global menghantam pada 2008 silam.
IATA mengungkap maskapai penerbangan bisa kehilangan 19 persen dari bisnis mereka jika penyebaran virus corona tidak segera berhenti. Situasi ini merupakan krisis untuk industri penerbangan.
[Gambas:Video CNN]
(age/bir)