Analis IEEFA Ghee Peh menyebut pembayaran loyalti sebesar US$551 juta atau setara Rp8,2 triliun (mengacu kurs Rp14.900) dari total US$1,26 miliar atau setara Rp18,77 triliun (mengacu kurs Rp14.900) terancam tak mampu dibayarkan jika harga batu bara tak kunjung membaik dan masih berada di kisaran US$58/ton sepanjang 2020.
"Penelitian kami menunjukkan penjualan batu bara di harga saat ini yaitu di kisaran US$58/ton dapat mengakibatkan masalah kas untuk berbagai produsen batu bara Indonesia," ungkap Ghee seperti dikutip dari risetnya pada Senin (11/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah pembayaran loyalti, akan ada enam dari sebelas perusahaan yang mengalami kas minus sehingga jika penangguhan diperluas untuk seluruh perusahaan di sektor batu bara maka potensi penangguhan loyalti sebesar Rp18,77 triliun," ucapnya.
Dia menyebut, permasalahan yang tengah dihadapi perusahaan batu bara terbilang serius mengingat harga batu bara akan terus tertekan jika pandemi virus corona tak kunjung terselesaikan. Untuk itu, ia menyarankan pihak terkait untuk meneliti kesehatan perusahaan-perusahaan batu bara yang berpotensi gulung tikar akibat virus corona.
Meski sempat terpaksa menjual harga murah pada krisis 2008 silam dari harga puncaknya US$180/ton pada Juli 2018 menjadi US$60/ton pada Januari 2009, namun proses pemulihan terbilang cepat yaitu pada Juli 2009.
Tak hanya itu, puncak harga pada Juli 2008 pun memberikan bantalan kas kepada perusahaan pada masa sulit kala itu. Namun sejak Juli 2019, rata-rata jual batu bara telah merosot di kisaran US$60-US$70/ton.
"Jika dibandingkan pada krisis 2008 lalu, saat ini perusahaan batu bara praktis tak memiliki uang kas lebih untuk menahan kikisan wabah virus corona," katanya.
Ghee bilang, seluruh perusahaan batu bara yang pada 2019 lalu membukukan laba tersebut bisa jadi mengemis penangguhan dari pemerintah atas tunggakan loyalti tahun ini. Jika tak berhati-hati, ia menyebut kerajaan batu bara Indonesia bisa saja amblas.
[Gambas:Video CNN]
(wel/age)