Padahal, pada Maret 2020, penurunan sub kelompok sandang sudah negatif 60,5 persen. Sehingga IPR pada periode tersebut tercatat turun 4,5 persen atau lebih dalam dibanding bulan sebelumnya.
"Responden menyampaikan penurunan penjualan sejalan dengan penurunan permintaan dan kebijakan pembatasan sosial (PSBB) akibat semakin meluasnya dampak covid-19 di April 2020," tulis survei BI, dikutip Selasa (12/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksi tingkat konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2020 lebih parah ketimbang kuartal sebelumnya. Hal ini dikarenakan banyak pemerintah daerah menerapkan PSBB akibat penyebaran penyakit covid-19.
"Untuk kuartal II 2020 kami prediksi memang lebih buruk. Berbagai belanja di rumah tangga mungkin akan mengalami penurunan yang cukup signifikan," ujar Sri Mulyani dalam video conference, awal Mei lalu.
Berdasarkan data pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 2,84 persen terpaut jauh dari periode yang sama tahun lalu, yaitu 5,02 persen.
Padahal, porsi konsumsi rumah tangga ini berkontribusi besar terhadap PDB RI, yakni 58,14 persen. Walhasil, laju ekonomi cuma 2,79 persen per Maret 2020. Posisi ini terendah sejak 2001 silam.
[Gambas:Video CNN]
(bir/age)