Kondisi new normal mendorong masyarakat untuk beradaptasi agar aktivitas sehari-hari tidak terhenti. Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Mohammad Andoko menyarankan masyarakat mengencangkan ikat pinggang saat menghadapi new normal.
Menurut Andoko jika tak merencanakan sistem keuangan baru dari sekarang, bisa jadi Anda malah nombok di kemudian hari. Kebutuhan dan aktivitas yang berubah drastis harus disesuaikan dengan kemampuan dompet yang tak juga bertambah tebal. Amunisi dan strategi harus disiapkan berdasarkan pertahanan dompet masing-masing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sana, dapat diketahui seperti apa kemampuan finansial Anda, jika keuangan Anda pas-pasan, segera tekan gaya hidup yang tak mendukung perencanaan ke depan. Bisa jadi gaya hidup konsumtif menjadi faktor utama penyumbang seretnya tabungan.
Kedua, hitung pos pengeluaran yang secara otomatis tereliminasi dari pengeluaran Anda seperti ongkos transportasi atau bensin yang kini tak lagi menyurutkan isi dompet. Uang jajan yang biasanya dihabiskan kala akhir pekan dengan kerabat di mall juga otomatis lenyap akibat penerapan jaga jarak fisik.
[Gambas:Video CNN]
Dari pos pengeluaran yang kini menjadi 'pemasukan' tambahan tersebut, alokasikan ke pos baru yang mungkin terlupakan sebelumnya seperti investasi dan premi asuransi jiwa.
Menurut Andoko, dalam keadaan new normal seperti sekarang perlu dipertimbangkan membayar asuransi jiwa yang menawarkan (cover) biaya pengobatan secara luas.
"Untuk pekerja mungkin sudah ada BPJS Kesehatan dari tempat kerja tapi ada baiknya investasi ke perusahaan swasta yang meng-cover secara lengkap agar kalau sakit bisa langsung ditangani dengan fasilitas lebih baik," sarannya.
Setelah hitung-hitung, tetapkan budget bulanan Anda yang telah disesuaikan dengan biaya rutin yang menanjak seperti biaya listrik dan pulsa yang meroket saat kerja dari rumah.
Jika masih memiliki uang lebih di luar dana darurat atau dana setara dengan tiga hingga enam bulan total pengeluaran, Andoko menyarankan untuk memulai investasi di pasar keuangan.
Apa lagi, kini pasar saham tengah 'diskon' besar-besaran akibat infeksi wabah virus corona. Namun perlu diingat resiko kehilangan yang ditimbulkan.
Lihat juga:Trik Amankan THR di Tengah Pandemi Corona |
"Karena investasi saham ini high risk expected high return (risiko besar namun belum tentu untung banyak), jadi benar-benar harus belajar dulu, kenali instrumen saham yang ada. Banyak kok kelas online gratis," ujarnya.
Sementara, Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto mengaku ia tak menyarankan untuk membelanjakan uang lebih di pasar keuangan di tengah pandemi Covid-19. Namun, untuk mereka yang memiliki dana mencukupi dan ingin mengalihkan uang tunai ke pasar keuangan, ia menyarankan untuk memilih deposito jangka pendek atau reksadana.
"Kalau tidak punya dana cadangan sebaiknya jangan ke saham dulu, simpan ke deposito jangka pendek untuk jaga-jaga. Kecuali kalau ada dana cadangan, bisa reksadana saham," katanya.
[Gambas:Video CNN]
(wel/evn)