Salah satunya PT Bank BTPN Tbk. Laba bersih perusahaan justru meningkat Rp245,4 miliar atau 48,44 persen dari Rp506,6 miliar pada kuartal I 2019 menjadi Rp752 miliar pada kuartal I 2020.
"Dengan situasi perekonomian global yang tidak menentu, ditambah perkembangan terkini penyebaran Covid-19, kami berusaha mempertahankan kinerja bank tetap positif," ucap Direktur Utama BTPN Ongki Wanadjati dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (20/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejalan dengan peningkatan penyaluran kredit, aliran pendanaan yang masuk ke bank juga tumbuh sekitar 3 persen menjadi Rp161,2 triliun. Pendanaan berasal dari Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp97,1 triliun, pinjaman pihak lain Rp57 triliun, dan pinjaman subordinasi Rp7,1 triliun.
Ongki mengatakan perusahaan berhasil meningkatkan porsi dana giro dan tabungan (Current Account Savings Account/CASA) dari semula 21 persen menjadi 29 persen pada tiga bulan pertama tahun ini. Peningkatan ini memberi dampak positif bagi beban biaya dana perusahaan, sehingga lebih kompetitif.
[Gambas:Video CNN]
Hal ini tak lepas dari sumbangan nasabah program Jenius yang tumbuh 85 persen dari 1,4 juta menjadi 2,5 juta nasabah. Total simpanan nasabah Jenius mencapai Rp8,3 triliun.
Kendati begitu, ia mengakui bahwa pandemi corona memang memberi tantangan di sisi likuiditas bank. Hal ini tercermin dari rasio likuiditas jangka pendek (Liquidity Coverage Ratio/LCR) sebesar 212 persen. Kemudian, rasio likuiditas jangka panjang (Net Stable Funding Ratio/NSFR) sebesar 116 persen.
Sementara rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 22,5 persen pada kuartal I 2020. Sedangkan aset naik 4 persen menjadi Rp199,7 triliun.
Peningkatan laba bersih juga berhasil dibukukan oleh Citibank N.A Indonesia. Bank BUKU III itu mencatat laba bersih sekitar Rp170,48 miliar atau 20,35 persen dari Rp837,52 miliar pada kuartal I 2019 menjadi Rp1 triliun pada kuartal I 2020.
"Meskipun tidak ada yang mengetahui seberapa besar atau lamanya dampak dari virus ini terhadap ekonomi domestik, kami tetap memiliki komitmen untuk melayani para nasabah serta melalui masa penuh tantangan ini bersama-sama," ujar CEO Citibank N.A Indonesia Batara Sianturi.
Sayangnya, perusahaan belum mempublikasikan total penyaluran kreditnya pada kuartal I 2020. Namun, kualitas kredit sedikit memburuk. Hal ini tercermin dari NPL gross yang naik dari 2,3 persen menjadi 2,34 persen. Sedangkan NPL net naik dari 0,53 persen menjadi 0,23 persen.
Pada sisi likuiditas, LCR bank naik dari 249,9 persen menjadi 272,78 persen. Begitu pula NSFR naik dari 123,55 persen menjadi 135 persen. Kemudian, rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) sebesar 26,3 persen dari sebelumnya 23,37 persen dan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) 62,4 persen dari sebelumnya 79,21 persen.
"Citibank tetap memiliki tingkat kecukupan modal dan likuiditas yang sangat baik," ungkapnya.
Sementara aset perusahaan meningkat 33 persen dari Rp78,56 triliun menjadi Rp105,2 triliun pada periode yang sama. Tingkat pengembalian aset (Return of Asset/RoA) naik dari 5,26 persen menjadi 5,64 persen.
(uli/agt)