"Tiga tahun saya menjalani HD yang dijamin oleh BPJS Kesehatan melalui program JKN-KIS. Entah apa yang terjadi, mungkin kami yang di sini sudah tutup usia sejak kami tak sanggup membiayai sendiri untuk pengobatan penyakit gagal ginjal," kata Sipon.
Pria 55 tahun itu berkata, dirinya sempat berobat dengan biaya pribadi selama satu tahun. Setiap berobat, ia harus mengeluarkan uang Rp800 ribu sampai Rp1 juta lebih. Padahal, dalam seminggu ia berobat tiga kali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut merasakan peningkatan pelayanan, baik dari BPJS Kesehatan maupun fasilitas kesehatan. Terlebih, dengan sistem pemangkasan atau simplifikasi pelayanan HD yang mempermudah pasien, yakni dengan pendaftaran sidik jari tanpa harus memperbarui rujukan tiga bulan sekali dari FKTP. Sipon merasa dimudahkan.
"Apalagi kalau jarak rumah jauh ya. Kalau begini, HD sudah terjadwal, tinggal datang saja ke RS terus sidik jari sudah, tidak perlu ada rujukan berulang. Pelayanan baik, manfaat yang didapatkan jauh dibandingkan dengan iuran yang kita bayarkan. Semoga Program JKN terus ada dan memberikan pelayanan terbaiknya," kata Sipon. (rea)