"Kami menyambut baik pemerintah memberikan stimulus dana talangan ke KAI berdasarkan keputusan Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan disepakati Rp3,5 triliun. Memang kami melakukan semua upaya untuk mengurangi cash flow (arus kas) yang defisit," kata Direktur Utama KAI Didiek Hartanto, dikutip dari Antara, Jumat (22/5).
Didiek menuturkan sejak Maret hingga Juni 2020 arus kas KAI mengalami defisit sebesar Rp5,3 triliun dan diperkirakan akan terus bocor hingga akhir tahun jika pandemi covid-19 belum berakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya KAI harus mengurangi atau menunda investasi, terutama yang sifatnya bukan Proyek Strategis Nasional (PSN).
"Seperti LRT Jabodetabek yang investasinya Rp6,9 triliun, konstruksinya di Bekasi Timur, Cawang, Dukuh Atas ini sesuai pemerintah, (PSN) tetap dilaksanakan sisanya kami kurangi," katanya.
"Efisiensi biaya kami lakukan pemotongan terhadap biaya-biaya yang bisa dipotong atau ditunda pembayarannya, seperti perawatan kereta kita bicara sama vendor," katanya.
Namun, lanjut dia, kereta yang ditunda perawatannya adalah untuk kereta-kereta yang tidak beroperasi, sehingga aspek keselamatan masih tetap terjamin.
Merosotnya arus kas yang terjadi pada KAI juga dipengaruhi oleh pembatasan kapasitas penumpang kereta baik jarak jauh maupun Kereta Rel Listrik (KRL).
Pasalnya, lanjut dia, kapasitas kereta api jarak jauh hanya diperbolehkan maksimal 50 persen dan KRL 35 persen dari kapasitas semestinya mengikuti aturan yang berlaku, yakni Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2020 tentang tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran covid-19 serta Surat Edaran Gugus Tugas Nomor 4 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19.
[Gambas:Video CNN]
(age)