Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan pemerintahannya tidak akan mematok target pertumbuhan ekonomi pada tahun ini karena besarnya ketidakpastian yang disebabkan penyebaran covid-19. Namun, ia menjanjikan respons fiskal yang lebih agresif yang akan didanai dari utang.
Tahun lalu, China menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 6 persen-6,5 persen. Tapi, pada kuartal pertama tahun ini, realisasinya menyusut 6,8 ersen. Laju ekonomi tersebut tercatat yang terparah sejak 1976 silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Argentina Gagal Bayar Bunga Utang Lagi |
Sementara, pemerintah daerah diizinkan untuk menerbitkan obligasi khusus hingga 3,75 triliun atau setara Rp7.720 triliun, yang dapat digunakan untuk membangun jaringan 5 G, kereta api, bandara, dan proyek-proyek infrastruktur lainnya.
Ekonom dari Capital Economics menilai kebijakan fiskal itu mampu menggenjot ekonomi China tahun ini sekitar 4 persen. Respons fiskal China ini serupa dengan respons pada krisis keuangan global 2008-2009 silam.
Puluhan juta orang terpaksa kehilangan pekerjaan di China karena pandemi corona. Bahkan, analis setempat curiga masalah pengangguran di China lebih besar ketimbang data yang dilaporkan pemerintahnya.
Tidak cuma itu, China juga menghadapi tekanan eksternal. Pandemi corona yang terjadi di lebih dari 150 negara di dunia membuat permintaan pengiriman barang dari China menurun. Sektor ekspor China disebut terbebani sangat berat.
Belum lagi, perang dagang yang berkobar kembali antara China dengan Amerika Serikat (AS) ikut meningkatkan kekhawatiran.
Li mengumumkan pemerintahannya tidak 'ngoyo' dengan target ekonomi tahun ini dalam pertemuan tahunan Kongres Rakyat Nasional.
[Gambas:Video CNN]
(bir)