Untuk diketahui, resesi ekonomi merupakan kondisi dimana Produk Domestik Bruto (PDB) sebuah negara mengalami kontraksi dalam dua kuartal berturut-turut.
Mengutip laman Politico, mereka memetakan kinerja 30 negara terkemuka di dunia dengan mengelompokkannya berdasarkan hasil kinerja di sektor kesehatan dan ekonomi. Mereka menyoroti pembatasan perdagangan, pembatasan interaksi sosial ringan, sedang, atau berat setiap negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Politico juga menyoroti penyebaran Covid-19 yang masif di DKI Jakarta. Apalagi di tengah penyebaran itu, pemerintah hanya melakukan pembatasan aktivitas masyarakat secara ringan.
Kebijakan itu kata mereka bisa berpotensi meningkatkan penyebaran virus. Politico mengutip Reuters juga menyebut jika sistem pendataan kematian Indonesia akibat Covid-19, rendah.
[Gambas:Video CNN]
"Tingginya tingkat perokok di negara tersebut menunjukkan populasi yang rentan," tulis Politico.
Menanggapi riset tersebut, pengamat ekonomi membenarkan jika Indonesia memiliki potensi selamat dari jurang resesi ekonomi akibat Covid-19. Potensi tersebut mereka ungkap dengan mempertimbangkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020 yang masih positif 2,97 persen.
Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan meskipun pertumbuhan tersebut anjlok dalam yang berhasil dicapai pada kuartal-kuartal sebelumnya, namun itu masih prestasi. Pasalnya, ekonomi Indonesia pada tiga bulan pertama menjadi salah satu yang terbaik dibandingkan sejumlah negara lainnya.
"Kalau misalnya tren seperti ini terus bisa dijaga, kita punya peluang menghindari resesi ekonomi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Ini merupakan syarat mutlak yang harus dicapai agar Indonesia bebas dari jeratan resesi. Menurutnya, jika kurva positif Covid-19 tak kunjung berkurang, maka tekanan yang terjadi pada ekonomi juga semakin berlangsung lama.
Berkaitan dengan penurunan jumlah kasus positif corona inilah, ia menyebut pemerintah masih kurang. Ia menilai kinerja tim kesehatan pemerintah kurang maksimal dibandingkan dengan tim ekonomi Kabinet Indonesia Maju.
"Ketika masuk new normal nanti, kalau protokol kesehatan tidak jelas, maka potensi terjadi second wave (gelombang dua) Covid-19 besar. Kalau itu terjadi, maka kinerja ekonomi semester II bakalan negatif dan resesi," imbuhnya.
Dihubungi terpisah, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Pieter Abdullah mengamini pernyataan Fithra. Menurutnya Indonesia berpeluang terlepas dari resesi ekonomi. Dengan catatan, penanganan Covid-19 berjalan maksimal.
"Kemungkinan bisa diwujudkan apabila tidak ada second wave wabah setelah diberlakukannya pelonggaran ekonomi atau new normal," ucapnya.
(ulf/agt)