"New normal ini dampaknya terhadap perumusan kebijakan sangat signifikan," ucapnya pada Rabu (3/6).
Pergeseran anggaran, katanya, terjadi secara alami. Sebab, banyak pos anggaran pada era normal baru tak lagi sesuai. Misalnya, anggaran belanja operasional rapat yang otomatis dipangkas untuk subsidi silang program kesehatan yang akan digenjot.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ambil contoh, belanja pencegahan yang dulunya tak memiliki pola khusus, kini pelebaran dapat ditekan dengan diketahuinya belanja kesehatan, seperti pembelian hand sanitizer dan alat kesehatan yang rutin digunakan lainnya.
Dalam evaluasi belanja daerah, pemangkasan terbesar dilakukan pada belanja modal, yaitu Rp107,03 triliun atau sebesar 45,77 persen dari pagu awal. Selanjutnya, belanja barang jasa dipangkas sebesar 34,04 persen atau sebesar Rp107,38 triliun dari pagu awal.
Ini sejalan dengan menurunnya pendapatan daerah. Jika dirata-rata secara nasional, pendapatan turun sebesar 15,81 persen atau setara dengan Rp195,82 triliun. Angka ini merupakan rata-rata dari 530 daerah di seluruh Indonesia.
"Koreksi pendapatan, rata-rata cukup dalam, secara nasional pendapatan turun sebesar 15 persen. Kalau dari pendapatan asli daerah (PAD) turun bisa sampai 28 persen," tukas Astera.
[Gambas:Video CNN]
(wel/bir)