"Kami juga melihat peluang ke depan untuk nilai tukar rupiah menguat. Ini tentu saja dari koordinasi yang erat antara kebijakan fiskal dan moneter," tutur Gubernur BI Perry Warjiyo dalam video conference, Rabu (3/6).
Rupiah pada awal April 2020 sempat melemah hingga menyentuh Rp16.400 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, kini rupiah kembali menguat dan bertengger di sekitar Rp14 ribu per dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tegaskan itu angka skenario terburuk, bukan proyeksi. Lalu kami juga melakukan berbagai kebijakan dengan baik. Angka Rp17.500 per dolar AS dan Rp20 ribu per dolar AS skenario berat," ucapnya.
Perry mengklaim bank sentral telah melakukan pelonggaran moneter lewat instrumen kuantitas atau quantitative easing (QE) dengan suntikan dana sebesar Rp583,5 triliun sejak awal tahun hingga 19 Mei 2020.
Selain itu, pemerintah juga telah mengizinkan BI untuk membeli SBN di pasar perdana. Hal ini dilakukan untuk membantu pemerintah dalam membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 di tengah penyebaran virus corona.
Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 38/PMK.02/2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Keuangan Negara untuk Penanganan Pandemi Covid-19 dan/atau Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan Stabilitas Sistem Keuangan.
[Gambas:Video CNN]
(aud/bir)