Salah satunya, tumpang tindih antara mewajibkan tes swab Polymerase Chain reaction (PCR) untuk seluruh penumpang dan physical distancing selama di dalam pesawat.
Ia bilang cukup salah satu peraturan yang diterapkan. Logikanya, jika seluruh penumpang yang berangkat dinyatakan negatif covid-19, maka protokol kesehatan ekstrim seperti pengaturan duduk tidak perlu dilakukan. Maskapai cukup mewajibkan penumpang memakai masker.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, jika pemerintah memakai alasan menjaga kesehatan penumpang dan memutus rantai penyebaran virus corona, maka seharusnya pemerintah tak menentukan harga tertinggi tiket pesawat.
Gatot mengatakan jika pemerintah ingin memastikan keberlanjutan masa depan maskapai maka kebijakan harga tiket harus dikembalikan kepada maskapai masing-masing selama pandemi virus corona belum terkendali.
"Maskapai meraup untung bisa saja kalau harga tiket juga naik, umpamanya dua kali lipat. Hanya saja harga tiket diatur dalam SE Dirjen. Kalau tarif tidak naik ya berat, ada operasional yang jalan terus, penumpang juga dipangkas setengah," lanjutnya.
Namun, keputusan tersebut akan memberatkan kantong penumpang. Untuk itulah, ia menyebut pemerintah seharusnya melibatkan maskapai dan lembaga konsumen (YLKI) dalam perumusan kebijakan dan protokol tatanan normal baru. Dan bukan main buat peraturan sendiri.
"Airasia dan Sriwijaya itu sampai sekarang belum ada kabarnya. Sementara Sriwijaya punya 10 persen pangsa pasar. Kalau sampai berguguran, nanti selesai pandemi apa mau kita engga punya maskapai lagi?" tuturnya.
Lihat juga:FOTO: Persiapan Mal Jelang New Normal |
Dalam pengamatannya, ia menilai protokol yang ada tak efektif dan efisien dalam menanggulangi pandemi virus corona. Ini disebabkan oleh minimnya simulasi sebelum peraturan ditetapkan. Simulasi mitigasi pun tak jelas, katanya.
Buruknya komunikasi publik juga menjadi permasalahan serius lainnya. Arista mengatakan, jika komunikasi dan sosialisasi peraturan dilakukan dengan baik maka pembatalan penerbangan tak akan terjadi. Sehingga, maskapai tak perlu melakukan refund massal dan mogok terbang.
"Di masyarakat banyak yang tidak tahu mesti ada tes PCR makanya ketika di bandara banyak yang ditolak dokumentasinya. Makanya banyak yang minta refund, rugi maskapai," katanya.
[Gambas:Video CNN]
(wel/age)