Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, kembali terkoreksinya harga batu bara disebabkan minimnya permintaan terutama di India dan Tiongkok.
"Stok batu bara di India dan Tiongkok terbilang cukup tinggi. Mereka masih memanfaatkan produksi dalam negeri sendiri," kata Agung dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (4/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sempat menguat 0,28 persen ke level US$67,08 per ton pada Maret lalu dibanding Februari (US$66,89 per ton), HBA merosot ke angka US$65,77 per ton pada April.
Sebagai informasi, HBA sendiri diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal per kilogram GAR.
Nantinya, harga ini akan digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batu bara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).
[Gambas:Video CNN]
(hrf/sfr)