Mereka memilih pensiun dini atau menjadi pengangguran untuk sementara waktu di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi akibat pandemi covid-19.
Tawaran berhenti bekerja yang diterima secara sukarela ini dinilai lebih menguntungkan bagi pekerja karena memberikan kepastian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan jika orang bersedia pergi secara sukarela dengan hubungan baik, perusahaan mungkin dapat lebih mudah mengembalikannya jika kondisi bisnis membaik," imbuh Challenger.
Dari kacamata perusahaan, pemberhentian kerja secara sukarela dianggap sebagai keputusan yang tepat di tengah pandemi covid-19 yang membuat situasi ekonomi merosot tajam.
Salah satu perusahaan yang menawarkan berhenti kerja secara sukarela untuk karyawannya adalah maskapai penerbangan. American Airlines (AAL) mengumumkan 4.500 pilot dan pramugari menerima tawaran berhenti bekerja secara sukarela pada bulan lalu.
Perusahaan Southwest (LUV) juga menawarkan penghentian kerja secara sukarela untuk pertama kalinya sejak berdiri pada 1967. Perusahaan ini tidak pernah menerapkan PHK sebelumnya.
Perusahaan pembuat pesawat, Boeing (BA) juga mengumumkan bahwa 5.520 orang menerima tawaran PHK sukarela. Namun, hampir 7.000 orang tidak menerima PHK sukarela. Perusahaan itu kini tengah mencari solusi agar target pengurangan 16 ribu pekerja tercapai pada akhir tahun ini.
Perusahaan keuangan TIAA mengonfirmasi bahwa mereka menawarkan paket menguntungkan untuk pekerja yang menerima tawaran PHK secara sukarela. Tawaran itu meliputi 91 minggu gaji pokok, bonus tunai serupa tahun lalu, dan membayar hingga 18 bulan perlindungan medis yang disubsidi oleh perusahaan.
Paket itu ditawarkan kepada dua pertiga dari 16.500 karyawan perusahaan di seluruh dunia, atau sekitar 11.000 penawaran. Namun, perusahaan hanya mengharapkan 5-7 persen saja atau 800 karyawan yang menerima tawaran itu.
Penawaran PHK sukarela ini juga dinilai menimbulkan dilema pada karyawan. "Mereka berpikir secara spesifik, 'Jika saya menerima tawaran itu sekarang, akan kah saya lebih baik atau lebih buruk?'" ungkap Alex Alonso, salah satu kepala Society for Human Resource Management.
[Gambas:Video CNN]
(ptj/bir)