Kepala BPKP Muhammad Yusuf Ateh mengatakan audit dilakukan sejak dini untuk menghindari kecolongan yang terjadi pada pengadaan bantuan sosial (bansos) dan klaim rumah sakit (RS) atas pasien covid-19.
"(Audit) ini sedang berlangsung, menurut kami sangat urgent karena ada uang negara yang sangat besar sekali di situ yang harus kami hemat," ungkapnya lewat video conference pada seminar Institut Pemeriksa Keuangan Negara (IPKN) bertajuk Tantangan Akuntabilitas Keuangan Negara di Tengah Masa Pandemi Covid-19, Selasa (9/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Yusuf juga bilang bahwa banyak pengajuan klaim rumah sakit (RS) yang tidak sesuai kebutuhan. Beberapa RS yang tidak berhak pun, katanya, aji mumpung dan mengajukan klaim penanganan pasien covid-19 kepada pemerintah.
Meski belum dapat membeberkan hasil audit pihaknya, namun Yusuf meyakinkan bahwa pihaknya akan transparan dan menyajikan hasil audit jika ditemukan kebocoran anggaran.
Dana tambahan tersebut akan dialokasikan untuk berbagai kebutuhan. Pertama, sekitar Rp87,55 triliun dialokasikan untuk kesehatan termasuk penanganan virus corona, santunan kematian, pembiayaan gugus tugas, insentif perpajakan di sektor kesehatan.
Kedua, Rp203,9 triliun untuk perlindungan sosial termasuk PKH bansos Jabodetabek, bansos non Jabodetabek, kartu prakerja, diskon listrik perpanjangan 6 bulan, logistik sembako, BLT Dana Desa.
Ketiga, Rp123,46 triliun akan dialokasikan untuk dukungan kepada UMKM dengan bentuk subsidi bunga, dukungan modal kerja UMKM, hingga penjaminan kredit modal kerja darurat.
[Gambas:Video CNN]
Keempat, Rp126,1 triliun untuk insentif dunia usaha agar mereka mampu bertahan, relaksasi perpajakan stimulus lain.
Kelima, penjaminan beberapa dengan dana talangan BUMN Rp44,57 triliun. Keenam, dukungan sektor pemda Rp97,11 triliun.