Jumlah itu sekitar 12,46 persen dari total pelanggan pascabayar yang mencapai 34,5 juta pelanggan.
Jumlah pelanggan dengan kenaikan tagihan terbanyak ada di kisaran 20 persen sampai 50 persen sebanyak 2,4 juta pelanggan. Di luar itu, ada pelanggan yang tagihan listriknya naik 200 persen, 500 persen, sampai 1.000 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yuddy mengatakan secara umum kenaikan terjadi karena tiga hal. Pertama, pemakaian listrik pelanggan kerap meningkat selama masa WFH.
Hal ini dikarenakan aktivitas kerja dan sekolah yang semula dilakukan di luar rumah kini harus dilakukan di rumah. Begitu pula dengan hiburan, misalnya nonton drama korea alias drakor.
Kedua, pemakaian listrik juga semakin bertambah karena momen bulan puasa. "Ramadan kita (masyarakat) bangun lebih awal, masak, dan lainnya. Lampu nyala semua jadi lebih panjang sehingga ada kenaikan dari bulan sebelumnya," tuturnya.
Ketiga, ada perubahan sistem catat meter kWH penggunaan listrik dari sebelumnya rata-rata menjadi riil pada bulan pemakaian.
Sementara untuk pelanggan prabayar, Yuddy mengatakan kemungkinan ada kenaikan meski biasanya tidak terasa bagi pelanggan karena pembayaran sesuai dengan pembelian token sebelum penggunaan.
"Mau pasca dan pra itu sama saja, beda bayar depan belakang saja. Kalau prabayar mungkin tidak berasa karena abis, beli token, abis, beli token. Kalau pascabayar kan langsung berasa. Jadi lebih ke pola konsumsi listrik saja," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]
(jal/sfr)