"Saya masih merasa kurang puas apa yang dilakukan oleh BI, karena melihat apa yang dilakukan bank sentral di Filipina, Thailand, AS bahkan di China, Jepang jauh lebih baik," ujarnya dalam sebuah diskusi virtual, Selasa (9/6).
Untuk diketahui, bank sentral AS, The Federal Reserves telah mengeluarkan sejumlah paket dan kebijakan untuk menjaga ekonomi. Salah satunya, melalui program main street yang memberikan bantuan kepada perusahaan dan UMKM terdampak virus corona.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau Anda hanya melihat di pasar portofolio itu kan jauh sekali untuk sampai kepada sektor riil. Paling langkahnya, simbolnya hanya di nilai tukar rupiah, selebihnya tidak ada. Hari ini kita tidak hanya membutuhkan nilai tukar rupiah, cadangan devisa karena kita tidak impor hari ini. Jadi yang kita pulihkan adalah industri dan daya beli dalam negeri, jam kerja, itu yang kita hidupkan kembali," tuturnya.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bank sentral telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga perekonomian. Secara total, BI telah melakukan pelonggaran moneter dengan instrumen kuantitatif (quantitative easing/QE) sebesar Rp583,5 triliun sejak Januari 2020 hingga 19 Mei. Pada Januari hingga April 2020, BI telah menginjeksi pasar keuangan lewat QE sebesar Rp415,8 triliun.
[Gambas:Video CNN]
Perry menjelaskan beberapa langkah yang telah dilakukan selama periode tersebut tersebut di antaranya membeli surat berharga negara (SBN) yang dijual asing di pasar sekunder sebesar Rp166,2 triliun. Selain itu, term repo perbankan sebesar Rp160 triliun, FX Swap Rp36,6 triliun dan penurunan GWM Rupiah (Januari & April) Rp53 triliun.
Perry mengklaim investor merespons positif bauran kebijakan yang dilakukan antara pemerintah dan BI di tengah pandemi virus corona.
"Kami juga melihat peluang ke depan untuk nilai tukar rupiah menguat. Ini tentu saja dari koordinasi yang erat antara kebijakan fiskal dan moneter," tuturnya belum lama ini.