"Kalau dilihat dari sisi kerugian, ya pasti (rugi). Kami biasa mengangkut satu juta penumpang per hari. Sekarang angkut 200 ribu-an (penumpang) per hari," tuturnya melalui konferensi video, Sabtu (13/6).
Dari penurunan penumpang yang drastis itu, katanya, tentu pendapatan dari penjualan tiket maupun kewajiban pelayanan publik atau PSO merosot. Namun, ia tak merinci berapa jumlah kerugiannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu alasannya adalah kondisi perekonomian masyarakat, katanya, juga sedang tidak baik. Karenanya, ia menekankan tarif kereta tidak bisa dinaikkan.
"Tarif kereta (KRL), PSO, pemerintah yang tetapkan. Jadi tidak akan naik. Tapi (kalau tarif kereta) komersil diserahkan ke operator," ujarnya.
Melalui SE Kemenhub No. 14 Tahun 2020, Zulfikri menaikan kapasitas penumpang KRL dari 65 persen jadi 80 persen mulai 9 Juni sampai 30 Juni.
Menurut Zulfikri, angka tersebut untuk saat ini tak bisa ditambah lagi. Pasalnya, pemerintah sudah memperhitungkan jumlah kapasitas dengan kemungkinan meminimalisir penyebaran virus corona.
Ia pun menekankan pihaknya bakal terus mengevaluasi efektifitas aturan kapasitas dan implementasinya di lapangan selama diterapkan.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menghapus aturan pembatasan kapasitas 50 persen secara serentak untuk semua angkutan. Kini kapasitas penumpang diatur berbeda-berbeda tergantung jenis angkutan.
(fey/sfr)