Prediksi tersebut menyusul dampak pandemi virus corona yang membuat 10 juta pekerja laki-laki kehilangan pekerjaannya dan jutaan lainnya bekerja dari rumah hingga waktu yang belum ditentukan.
"Perusahaan memiliki penasihat soal kebangkrutan sejak beberapa bulan terakhir. Penasihat telah menjajaki semua opsi yang ada. Kemungkinan (kebangkrutan) cukup tinggi," kata Analis Debtwire Reshmi Basu seperti dikutip dari CNN, Senin (15/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sektor ritel terutama penjual pakaian menerima pukulan berat seiring dengan kebutuhan pakaian baru yang terus menurun. GAP melaporkan rekor kerugian sebesar US$932 juta atau setara Rp13,04 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS) pada kuartal I 2020.
"Jika dampak krisis pandemi covid-19 terus berlarut dan kami tidak dapat meningkatkan likuiditas dan secara efektif mengatasi posisi utang, kami mungkin terpaksa mengurangi atau menghentikan operasi kami sembari meminta perlindungan di bawah UU Kebangkrutan," tulis surat pengajuan Tailored Brands pada Rabu lalu.
Perusahaan juga merumahkan dan memberhentikan 95 persen dari total 19 ribu karyawannya. Meski Tailored Brands berusaha bangkit dan membuka 44 persen tokonya pada awal Mei, namun penjualan pada pekan pertama Juni anjlok 65 persen di Men's Wearhouse, 78 persen di Jos A Bank, dan 40 persen di K&G.
(wel/age)