Ekonom Kritik Muhadjir Soal Kawin Cetak Keluarga Miskin Baru

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 11:06 WIB
Sejumlah pengamat menyebut kemiskinan tak terjadi karena pernikahan, tapi kurangnya akses yang diberikan pemerintah ke masyarakat pada sumber daya ekonomi. Sejumlah pengamat menilai kurangnya akses dari pemerintah membuat orang miskin bertambah, bukan masalah pernikahan di antara keluarga miskin. Ilustrasi. (Adhi Wicaksono/CNNIndonesia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengklaim pernikahan menjadi penyebab bertambahnya jumlah keluarga miskin baru di Indonesia. Ini khususnya pernikahan yang dilakukan antara keluarga miskin dengan keluarga miskin lain.

"Sesama keluarga miskin besanan kemudian lahirlah keluarga miskin baru," kata Muhadjir, dikutip Rabu (5/8).

Namun, sejumlah pengamat kontra dengan pernyataan Muhadjir. Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal menyatakan pemerintah kebablasan jika sampai harus mengatur dengan siapa seseorang harus menikah demi menekan kemiskinan di dalam negeri.


"Kalau untuk menyatakan harus menikah dengan siapa itu saya rasa kebablasan. Itu kan hak privasi, tidak bisa diatur juga," ujar Fithra kepada CNNIndonesia.com.

Ia menyatakan pemerintah juga memiliki andil yang besar untuk membuat kemiskinan di dalam negeri tak bertambah dan seseorang keluar dari jurang kemiskinan. Salah satunya adalah akses.

"Ini menjadi tugas pemerintah untuk memberikan akses dan afirmasi buat orang miskin," imbuh Fithra.

Selama akses yang dimiliki orang miskin dan orang kaya timpang, maka akan semakin banyak orang miskin baru ke depannya. Sebab, anak dari keluarga miskin akan sulit keluar dari 'areanya'.

"Misalnya saja akses pendidikan. Orang miskin kesulitan internet dan teknologi, jadi sulit belajar. Kalau orang kaya sudah ada. Ini harus difasilitasi. Jadi solusinya bukan orang miskin dinikahkan dengan orang kaya," tegas Fithra.

Dia bilang fasilitas yang diberikan untuk orang miskin harus lebih besar ketimbang orang kaya. Sebab, orang miskin tak akan pernah bisa mengejar atau setara dengan orang kaya jika fasilitasnya sama.

"Ibaratnya orang kaya lomba lari menggunakan sepeda, orang miskin lari biasa. Ya beda. Makanya fasilitasnya juga harus beda. Kalau bentuk fasilitasnya sama ya orang kaya lebih sukses," jelas Fithra.

Senada, Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan penambahan jumlah orang miskin terjadi juga karena kesalahan pemerintah. Menurutnya, selama penyaluran bantuan sosial (bansos) efektif, fasilitas pendidikan untuk orang kelas menengah ke bawah diberikan secara baik, dan ada penambahan modal kerja, seharusnya bisa menjadi pintu bagi orang miskin keluar dari dari areanya.

"Indonesia ini kenapa keluarga miskin hasilkan orang miskin juga karena masalahnya pemerintah tidak memberikan fasilitas yang layak dan dukungan ke keluarga miskin secara proporsional," tutur Bhima.

Kesempatan yang dimiliki oleh keluarga miskin pun tak sama dengan keluarga kelas menengah ke atas. Jadi, seakan-akan mustahil bagi keluarga miskin membuat anaknya keluar dari garis kemiskinan.

"Ini karena tidak ada kesempatan. Kuncinya di negara. Jadi bukan salah adalah keluarga miskin menikah dengan keluarga miskin. Negara tidak perlu ikut campur dengan siapa orang menikah," kata Bhima.

Ia menganggap sumber kemiskinan di Indonesia adalah kemiskinan struktural. Artinya, kemiskinan muncul karena ketidakmampuan sistem dan struktur sosial dalam menyediakan kesempatan yang memungkinkan orang miskin dapat bekerja, sama seperti orang kaya.

"Jadi mereka dimiskinkan karena struktur ekonomi memang tidak berpihak pada mobilitas kelas bawah. Jadi mulai dari sistem pendidikan, kemudian orang kaya yang menguasai aset. Misalnya 1 persen orang terkaya menguasai 50 persen kekayaan nasional, ya bagaimana orang miskin mau naik kelas," papar Bhima.

Untuk itu, pemerintah seharusnya introspeksi lagi terkait sejumlah kebijakan yang digelontorkan untuk orang miskin. Salah satunya adalah stimulus fiskal yang masih lambat pencairannya di tengah pandemi virus corona.

"Jadi kemiskinan akan bertambah terus kalau pemerintah abai. Kemiskinan terjadi karena struktur ekonomi, bukan pernikahan," pungkas Bhima.

[Gambas:Video CNN]



(aud/age)